Symantec rilis metode baru kejahatan transasksi online

INAnews.co.id, Jakarta – Selain meraup keuntungan lewat ransomware dan cryptojacking, para penjahat dunia maya kini memakai metode alternatif, seperti formjacking, untuk menghasilkan uang.

Menurut Internet Security Threat Report (ISTR) dari Symantec (Nasdaq: SYMC), Volume 24 yang dirilis Symantec  dari Global Intelligence Network suatu jaringan intelijen ancaman sipil terbesar di dunia, yang merekam peristiwa dari 123 juta sensor serangan di seluruh dunia.

Berhasil memblokir 142 juta ancaman setiap hari dan memantau kegiatan ancaman di lebih dari 157 negara.

Sorotan utama dari laporan tahun ini meliputi , serangan formjacking sangat sederhana, pada dasarnya seperti skimming ATM virtual, di mana penjahat siber menyuntikkan kode berbahaya ke situs web toko ritel untuk mencuri detail kartu pembayaran pembeli.

  Rupiah Stabil Jelang Keputusan Suku Bunga BI

Formjacking merupakan ancaman serius bagi perusahaan dan konsumen,” kata Greg Clark, CEO, Symantec pada Rabu (06/03/2018) melalui siaran rilisnya kepada Redaksi.

Rata-rata, lebih dari 4.800 situs web unik diinfeksi dengan kode formjacking setiap bulannya. Symantec berhasil memblokir lebih dari 3,7 juta serangan formjacking pada endpoint di tahun 2018, dengan hampir sepertiga dari semua deteksi terjadi selama periode belanja online yang teramai tahun di tahun 2018, yaitu bulan November dan Desember.

Meskipun sejumlah situs pembayaran online retailer terkemuka, termasuk Ticketmaster dan British Airways, diinfeksi dengan kode formjacking dalam beberapa bulan terakhir, penelitian Symantec mengungkapkan bahwa toko-toko ritel online kecil dan menengah adalah pada umumnya yang paling banyak diinfeksi.

  PT.Pindad targetkan kontrak senilai Rp. 7 triliun

Dengan perkiraan konservatif, penjahat cyber mungkin telah mengumpulkan puluhan juta dolar tahun lalu dengan mencuri informasi keuangan dan pribadi konsumen melalui penipuan dan penjualan data kartu kredit di situs-situs ilegal.

Hanya dengan 10 kartu kredit yang dicuri dari setiap situs yang diinfeksi dapat menghasilkan hingga 2,2 juta dolar setiap bulan, di mana satu kartu kredit bernilai hingga 45 dolar di forum-forum penjualan ilegal.

Dengan lebih dari 380.000 data kartu kredit yang dicuri, serangan British Airways saja memungkinkan penjahat siber untuk meraup lebih dari 17 juta dolar.

“Konsumen tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah mereka mengunjungi toko ritel online yang terinfeksi tanpa menggunakan solusi keamanan yang komprehensif sehingga menjadikan informasi pribadi dan keuangan mereka yang berharga rentan terhadap pencurian identitas yang berpotensi merugikan,” ujar Greg.

  Bank Indonesia : inflasi IHK tetap dalam kisaran dan stabil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here