Pengelolaan Sistem Transportasi Di Ambon Dengan Segala Permasalahannya

INAnews.co.id, Ambon – Kondisi geografi Maluku adalah mayoritas laut, di wilayahnya adalah 93% adalah lautan dan kemudian 7%  sisanya adalah jalan.

Jalan raya di Maluku memiliki panjang sekitar 1773 KM dan terpecah pecah serta tersebar di berbagai pulau yang ada. Armada yang di butuhkan untuk melayani masyarakat  adalah menggunakan armada kapal Ferry.

“Sebagian dari masyarakat di Maluku Ini membutuhkan Kapal ferry yang masih di subsidi oleh Pemerintah melalui ASDP dan BUMD,” ujar Herman, selaku Balai Pengelola Transportasi Darat Maluku pada Rabu 6 November 2019

Tambah Herman yang menjadi kendalanya adalah manajemen di  BUMD pada daerah tingkat 2 yang belum mampu mengelola. Sedangkan untuk tingkat 1 sudah mampu.

Dalam Programnya Murad Ismail sebagai Gubernur Maluku sangat mendorong  penggunaan kapal Ferry sebab sangat membantu dan meningkatkan pelayanan masyarakat Maluku.

Gubernur Murad Ismail menegaskan kapal Ferry yang ada di Maluku harus dikelola oleh Pemerintah Daerah Tingkat 1.

“Bapak Gubernur  sangat konsen  sekali khususnya untuk Kapal Baruna Nusantara 02. karena beliau ingin menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah  ingin membangun Maluku melalui dana subsidi, khususnya di bidang transportasi,” jelas Herman.

Tambah Herman, akan tetapi saat ini hanya ada 9 kapal milik BUMD dan 6 kapal milik ASDP,  dan masih di subsidi oleh pusat.

“Dari 9 dan 6 kapal itu melayani Maluku Pengda Tingkat 1 mencoba mengkonektivitaskan angkutan penyebrangan melalui kapal ferry yang di beri nama  Trans Maluku. Trans Maluku itu diupayakan bisa menghubungkan dengan kota Kota di Ambon dan juga terkoneksi keluar seperti ke Papua atau NTT,” jelas Herman.

Herman menjelaskan bahwa Kendala selanjutnya dalam angkutan penyebrangan kapal ferry ini  adalah  cuaca yang tidak menentu  dan ombak yang besar yang selalu melanda kepulauan yang ada di Maluku.

Jadi Pemerintah Daerah Maluku jika ingin mengembangkan sistem angkutan penyebrangan kapal Ferry harus punya spesifikasi khusus untuk kapalnya,  misalnya kapal laut penumpang yang bisa mengangkut penumpang  juga barang komoditi dengan ukuran besar minimal 300 GRT. Hal ini untuk mengatasi ombak besar.

Pemerintah pusat melalui Menteri terkait serta Pemerintah Daerah tingkat 1 sudah membangun pelabuhan Elat  dengan 61 lintasan yang di layani dengan kapal yang tersedia yaitu 15 kapal milik BUMD dan ASDP.

Kondisi ini tentu saja jauh dari kata mencukupi. Maka hal ini membuat antrian penumpang menjadi  sangat lama dan ini membuat   waktu tunggu mereka jadi lama bisa sampai  2 minggu.

“Kondisi sangat tidak menguntungkan adalah angkutan komoditi bahan pokok mayarakat dan lalu lintas komoditi barang menjadi agak terhambat. Inilah kondisi angkutan penyebrangan kapal ferry rute Ambon -Tual – Somlaki yang masih sangat terbatas,” jelas Herman.

Dengan kondisi itu Pemerintah daerah mencoba membangun pelabuhan penyeberangan dikelas utara yaitu  Pelabuhan Moal agar konektivitas  tidak tergantung dengan  kapal kapal ferry yang dari NTT.

“Jadi ada kapalnya itu dari NTT masuk ke Ambon serta ada kapal yang keluar dari dari Ambon ini akan membuat lalu lintas kapal menjadi hidup. Akan tetapi sekarang ini baru KMP Marcella yang  melayani jalur NTT ke Ambon,” ucapnya.

Masih menurut Herman total kebutuhan kapal Ferry  untuk  Maluku pada tahun 2020 untuk melayani masyarakat di Ambon dengan sistem port to port, maka dibutuhkan sekitar 50 kapal ferry .

“Saat ini bagaimana pemerintah daerah dengan masyarakatnya bisa membangun Ambon jika kebutuhan transportasi Angkutan kapal ferry masih jauh dari mencukupi. Sedangkan pada program 2020 ini Pemerintah Daerah Ambon masih tahap program rehab saja,” ujar Herman.

Hal ini bisa dilihat pada DPTD 23 yang  membawahi 31 Pelabuhan. Sekarang di tahun 2019 menjelang tahun 2020 baru terdapat proyek  Rehab Pelabuhan di Nusa Laut, Haruku , Saparua dan  Teluk Bara.

Pada saat selesai dibangun pengelolaan Pelabuhan di serahkan kepada Pemerintah Daerah tingkat 2, akan tetapi Pemda Tingkat 2 tidak bisa mengelola dengan baik, sehingga akhirya di negoisasi ulang dan Pemda tingkat 2  ingin mengembalikan kembali pengelolaannya kepada Pemda Tingkat 1.

“Contoh nyatanya adalah Pelabuhan Teluk Bara dikembalikan ke pemda tingkat 1.  Artinya Pemda Tingkat 1  harus memperbaiki kembali kondisi pelabuhan Teluk Bara,” ujar Herman.

Angkutan Darat Yang Terkendala

Kemudian permasalahan di Angkutan Darat,  Damri saat ini hanya memliki 26 bis  dan melayani  21 trayek. Pelayanan Damri di Ambon jauh berbeda dengan di pulau jawa, karena kondisi alamnya sangat jauh berbeda.

“Kondisinya ini kami harus melayani angkutan Perintis ini melewati sungai melewati gunung turun belum  lagi porce mayer  yaitu jika ada Perkelahian antar kampung di Ambon ini membuat pelayanan angkutan peritis dengan Bis Damri menjadi berhenti sementara waktu,” jelas Herman.

Tambah Herman, harapan Pemda Maluku tentu saja meminta kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat bisa membantu angkutan perintis dengan kerjasama kepada Damri untuk pengadaan penambahan bis,  agar dapat melayani sesuai kebutuhan masyarakat di kota Ambon dan sekitarnya.

Pemda Maluku kekurangan SDM dibidang Perhubungan

Permasalahan selanjutnya yang juga sangat penting Pemda Maluku  disini kekurangan masing sangat kekurangan SDM. Jumlah SDM yang ada hanya 16 ASN  dan 80 honorer.

Saat ini  permasalahannya Pemda Maluku bukan butuh SDM honorer, tetapi butuh ASN supaya ada kualifikasi dan kompentensi.

“Kenyataan yang ada misalnya  di jembatan timbang itu butuh pegawai PNS. Butuh penguji yang ada pengujinya sementara ini masih di pegang oleh pegawai  honorer , maka kondisi ini sulit untuk pengembangan dan melakukan tindakan,” ungkap Herman.

Tambah Herman, Maluku dengan segala kekurangan dan semua permasalahan yang ada, memohon kepada pemerintah pusat bahwa Maluku membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah pusat untuk pembangunan di masa mendatang.

“Karena Maluku masih wilayah Indonesia yang masih membutuhan perhatian seperti daerah lain,” tutup Herman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here