Kuasa Hukum Anggap Perkara Arbitrase Nasabah Rekening Efek Regular Salah dan Kurang Pihak

Perkara arbitrase tersebut telah terdaftar dalam perkara Nomor 42044/VII/ARB-BANI/2019 tanggal 31 Juli 2019

23

INAnews.co.id , Jakarta -Perusahaan Perantara Pedagang Efek PT. CGS CIMB NIAGA ajukan permohonan wanprestasi.

Permohonan Wanprestasi juga selaku pemohon atas nama Yahya Basamalah juga selaku termohon kepada Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) berdasarkan perjanjian Pembukaan Rekening Efek Regular atas nama Termohon, Adib dan Murod.

“Hal itu berdasarkan Akta Pengakuan Hutang Nomor 02 tanggal 4 September 2015 yang dibuat oleh Eko Putranto, Notaris di Jakarta,” mengutip rilis kantor Rey & Co , yang diterima Redaksi pada , Kamis 7 mei 2020.

Perkara arbitrase tersebut telah terdaftar dalam perkara Nomor 42044/VII/ARB-BANI/2019 tanggal 31 Juli 2019 dengan Majelis Arbiter yang diketuai oleh Rosa Agustina, Djuhaendah Hasan, dan Achmad Zen Umar Purba, masing-masing selaku anggota arbiter.

Adapun termohon diwakili oleh para Advokat yang tergabung pada Kantor Rey & Co Jakarta Attorneys at Law yang diwakili oleh Alessandro Rey, Kartika Sari Putri dan Lukman Wicaksono.

Sedangkan Kuasa Hukum Pemohon adalah kantor Advokat Bayuputra Hutasoit Ganie (BHG) yang diwakili oleh Audy Bayu Putra, Nadia Saphira Ganie, dan  Aditya Bagus Anggariady.

“Nasabah yang menjadi termohon dalam perkara a quo tersebut seharusnya adalah Yahya Basalamah bukan Yahya Basamalah sehingga Pemohon salah menarik pihak dalam perkara a quo” tulis Rey dalam siaran persnya kepada media, Kamis 22 mei 2020.

Menurut Rey , jika yang dimaksud pemohon adalah nasabah rekening efek regular PT CGS CIMB Niaga, maka nasabah tersebut adalah Yahya Basalamah dengan akun Nomor RJKL5293 yang dibuka tanggal 24 Oktober 2014 berdasarkan Perjanjian Pembukaan Rekening Investor.

“Namun Rey jelaskan  jika yang dimaksud Pemohon adalah Yahya Basamalah, maka yang bersangkutan adalah bukan Nasabah Rekening Efek Regular PT CGS CIMB Niaga,” tulis Rey.

Lebih lanjut Sambung Rey, jika Pemohon dalam Permohonannya salah menarik pihak maka permohonan tersebut disebut Error in Persona.

“Permohonan yang Error in Persona adalah permohonan yang tidak memenuhi syarat formil dalam hukum acara perdata yang digunakan sebagai prosedur beracara di BANI”, jelas Rey.

Diungkapkan Rey , akibat hukum Permohonan Pemohon yang salah menarik pihak (Gemis Aanhoeda Nigheid) berdasarkan Pasal 8 angka 3 RV adalah permohonan Pemohon haruslah dinyatakan tidak dapat diterima atau dalam istilah hukum lebih dikenal dengan NO (niet ontvankelijke verklaard).

“Hal tersebut juga bertentangan dengan ketentuan Pasal 1340 KUHPerdata”, tambahnya.

Namun kata Rey, selain dari Kuasa Hukum Pemohon salah menuntut pihak, mereka juga dalam permohonannya menuntut kurang pihak karena pada saat pembukaan rekening ada 3 (tiga) rekening yaitu Yahya Basalamah, Adib dan Murod, dan oleh karenanya demi hukum mereka harus dijadikan pihak dalam perkara sebagai termohon sehingga yang menjadi Termohon bukan saja Yahya Basalamah tetapi juga Adib dan Murod.

“Hal tersebut didasarkan pada Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung Nomor Putusan Mahkamah Agung Nomor 201 K/SIP/1974 tanggal 28 Januari 1976 yang menyatakan kurangnya pihak yang ditarik sebagai Termohon dikualifikasi mengandung error in persona sehingga akibat hukum dari cacat formil tersebut adalah Permohonan Pemohon harus dinyatakan tidak dapat diterima” ungkap Rey.

Untuk itu sambung Rey, “Kami selaku Kuasa Hukum Termohon berharap Majelis Arbiter dapat memberikan putusan yang seadil-adilnya demi tegaknya hukum dan demi memberikan kepastian hukum, keadilan dan kemaslahatan bagi pihak-pihak yang berperkara, karena Putusan tersebut akan banyak dibaca oleh khalayak ramai,” sambungnya.

“Dengan kata lain apa yang ada pada teori hukum juga sama dalam prakteknya atau Das Sollen adalah sama dengan Das Sein.” tutup Rey.

Baca Juga

Komentar Anda

Your email address will not be published.