Menengahkan Mereka yang Terpinggirkan

Kunci Pembelajaran dari Praktik Baik Inklusi oleh Kelompok Marginal di Masa Pandemi

40

INAnews.co.id, Jakarta- Pandemi COVID-19 di Indonesia berdampak signifikan pada semua sektor. Bagi kelompok marginal dan terpinggirkan, dampak pandemi dirasakan lebih berat dengan adanya kerentanan ganda. Namun, berkat upaya-upaya mendorong terciptanya inklusivitas sejak lama, kelompok marginal justru mampu bertahan dan kreatif mencari alternatif selama masa pandemi ini. Siapa saja mereka dan apa saja pembelajaran yang dapat dipetik?

Hal itulah yang dibahas dalam webinar “Belajar dari Kelompok Marginal: Praktik Baik Inklusif di Masa Pandemi” yang diselenggarakan pada 5 Agustus 2020 oleh Program Peduli yang dikelola The Asia Foundation (TAF) berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM).

Kelompok marginal atau terpinggirkan adalah warga negara yang dibedakan berdasarkan identitas sosial, lokasi geografis, orientasi seksual, keterbatasan fisik, maupun asal-usulnya. Berbagai upaya yang telah dilakukan selama beberapa tahun belakangan dalam Program Peduli dengan pendekatan komunitas berbasis kepentingan bersama, jarak sosial mulai berkurang meski tidak hilang sama sekali.

Penerimaan sosial kelompok marginal mulai terlihat dan mereka menjadi bagian dari komunitas yang lebih luas. Hal inilah yang menjadi modalitas mereka dalam menghadapi pandemi COVID-19 yang juga tak dapat dielakkan menimbulkan stigma dan kesenjangan baru.

Dalam prolog webinar, Sandra Hamid, Country Representative Indonesia The Asia Foundation mengatakan, “Pusat dan pinggir dalam konteks masyarakat marginal tidak selalu identik dengan dikotomi ‘pusat’ dan ‘daerah’ dalam konteks politis dan geografis.

Proses yang dialami kelompok marginal membuat kita berpikir ulang soal pinggir dan pusat. Mereka yang terpinggirkan bisa saja berada di tempat yang selama ini dianggap sebagai pusat. Dari mereka kita mesti belajar bagaimana mereka siap menghadapi pandemi, juga gerakan yang mereka lakukan dalam menghadapi tantangan di masa mendatang. Hal inilah yang dinamakan ‘Menengahkan Mereka yang Terpinggirkan’”.

Pernyataan tersebut diperkuat dengan berbagai contoh praktik baik yang telah dilakukan dan dibagikan dalam webinar oleh Hasna, Sekretaris Desa Mataue, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah sebagai perwakilan dari komunitas adat; Cindy Purnama Fitri, kader anak dari pekerja migran di Desa Pandanwangi, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat; Edy Supriyanto, Ketua SEHATI di Sukoharjo, Jawa Tengah sebagai perwakilan dari orang dengan disabilitas; dan Berby Gita, pegiat Srikandi Pasundan di Jawa Barat sebagai perwakilan dari komunitas transpuan atau waria.

Kondisi pandemi mengharuskan para murid belajar jarak jauh, ketimpangan akses pun semakin nyata terlihat. Cindy Purnama Fitry, kader anak dari pekerja migran yang juga aktif dalam forum anak di desanya tidak lantas tinggal diam. Menurut Cindy, dulu ia adalah anak yang pendiam dan pemalu sebagai anak dari pekerja migran yang sering mendapatkan perundungan.

Kini di Forum Anak Desa Pandanwangi, ia mendampingi anak-anak lainnya untuk belajar. “Kami membantu anak-anak TK hingga SMP belajar secara daring dan luring di rumah baca dan pusat belajar forum anak. Kami juga mengajarkan Bahasa Inggris,” terang Cindy dalam webinar yang juga didukung oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Kedutaan Besar Australia (DFAT) melalui Program Peduli ini.

Tidak hanya itu, mereka juga mengajak anak-anak bermain permainan tradisional agar mereka tidak stres, tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Tak hanya itu, Cindy juga aktif melakukan advokasi untuk mencegah pernikahan anak yang banyak terjadi di desanya.

Bagi orang dengan disabilitas, akses terhadap informasi dan bantuan sosial menjadi permasalahan selama pandemi.

Kabupaten Sukoharjo menjadi salah satu dari 5 kabupaten yang terdampak COVID-19 paling besar di Jawa Tengah. Organisasi SEHATI yang didukung oleh Program Peduli telah berhasil menginisiasi 60 desa inklusi dan membentuk 70 kelompok difabel desa. Inilah yang menjadi modalitas mereka dalam menghadapi pandemi.

Edy Supriyanto, Ketua SEHATI mengatakan, “Kami mendirikan posko khusus untuk membantu kelompok marginal seperti lansia, disabilitas, anak, perempuan, dan kelompok rentan lainnya. Kami juga memastikan layanan kesehatan di Rumah COVID yang diinisiasi pemerintah kabupaten inklusif dengan menyediakan materi komunikasi untuk kelompok marginal. Kami juga melakukan validasi data yang menjadi basis penyaluran program perlindungan sosial. Hampir 100% difabel di Kabupaten Sukoharjo mendapatkan bantuan.”

Vivi Yulaswati, Staf Ahli Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh berbagai kelompok dan organisasi masyarakat sipil. Ia mengatakan, “Belajar dari COVID-19 ternyata modal sosial dan modal manusia menjadi kunci untuk kita sama-sama belajar menerapkan dan membangun dampak positif. Kemitraan kita bisa mulai dari partisipasi, memberikan kesempatan, akuntabel, dan menggunakan contoh konkret dari teman-teman yang ada di lapangan.”

Dengan pandemi COVID-19 yang belum menampakkan situasi yang membaik, semakin maraknya informasi tidak akurat, dan kejenuhan masyarakat, penting untuk belajar dari praktik baik yang sudah dilakukan kelompok masyarakat yang termarginalkan. Pemerintah perlu melihat dan menggunakan modal sosial yang sudah ada dan menengahkan mereka yang terpinggirkan.

Telah terbukti dan dapat dilihat bagaimana mereka bertahan dan bergerak di tengah pandemi dan menjadi tangguh meski dengan berbagai kondisi ketimpangan dan keterbatasan. Sudah saatnya untuk menengahkan yang terpinggirkan, kelompok-kelompok yang termarginalkan.

Sementara itu dalam epilognya, Wawan Mas’udi, Wakil Dekan Fisipol UGM menggarisbawahi pentingnya gerakan kolektif. “Upaya akar rumput untuk memperjuangkan inklusi menunjukkan bahwa masyarakat inklusif bukan sesuatu yang given. Kewargaan inklusif adalah sesuatu yang harus terus diupayakan melalui gerakan, secara kolektif,” tegasnya.

Komentar Anda

Your email address will not be published.