Ketika Ia Jadi Presiden Indonesia

RESONANSI, Adwin WP

200

INAnews.co.id, Jakarta-14 Januari 2021

Hei! Jangan kau patahkan kuntum bunga itu

Ia sedang mengembang; bergoyang dahan-dahannya yang tua yang telah mengenal baik, kau tahu segala perubahan cuaca

Bayangkan akar-akar yang sabar menyusun dan menjalar

Hujan pun turun setiap Bumi hampir hangus terbakar dan mekarlah bunga itu perlahan-lahan dengan gaib dari rahim alam

Jangan; saksikan saja dengan teliti, bagaimana Matahari memulasnya warna-warni, sambil diam-diam membunuhnya dengan hati-hati sekali dalam Kasih sayang dalam rindu dendam alam

Lihat; ia pun terkulai perlahan-lahan dengan indah sekali tanpa satu keluhan.

Sengaja saya buka tulisan ini dengan mengutip secara utuh puisi “Hei Jangan Kau Patahkan“ karya Sapardi Djoko Damono.

Usai ngobrol dengan teman yang memiliki semangat menjadi Presiden Indonesia, muncul keinginan saya untuk menuliskan semangat itu dan saya pun teringat dengan puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Bagi kalian yang pernah membaca dan memahami “rasa” yang ditawarkan oleh puisi itu, pastilah segera mengerti ke mana arah tulisan ini.

Sore itu gerimis sisa hujan sejak siang masih ada di belakang punggung kami.

Sorot lampu mobil mengantarkan butiran gerimis jatuh ke bumi.

Kopi dan susu jahe di gelas kami masih sepertiga. Percakapan kami bertiga makin meninggi. Kadang kami harus mengalah, menahan ucapan lantaran derung motor yang mengacaukan telinga.

Teman saya meminta agar saya menuliskan mengenai event yang bergulir tiap empat tahun sekali, yakni Pekan Olahraga Nasional atau PON yang di tahun 2021 ini, bulan Oktober di Papua merupakan perhelatan yang ke-XX.

Buat saya, kebutuhan dari pelaksanaan PON sampai saat ini masih bagai jantung pada tubuh kita. Jantung yang memompa peredaran darah di tubuh kita.

Dan PON adalah jantung dari pembangunan Indonesia lantaran melalui PON lah, pemerataan pembangunan Indonesia diwujudkan.

Belanja negara terbesar pada kurun waktu lima tahun tugas Presiden Indonesia, ada pada pelaksanaan PON.

Suatu daerah yang menjadi tuan rumah PON akan menerima dana pembangunan sarana olahraga di wilayahnya.

Seiring pembangunan stadion olahraga, praktis disertai dengan pembangunan infrastruktur penunjangnya, jalanan menuju stadion itu dan lainnya.

Jalur transportasi pun terbuka. Mobilitas masyarakat akan lebih dinamis. Inilah yang saya lihat: kepandaian berpikir para pendahulu bangsa yang menggagas event PON.

Silahkan anda bayangkan bila PON ditiadakan?

Bagaimana mekanisme APBN atau belanja negara bergulir ke suatu provinsi di Indonesia?

Bagaimana kita dapat melihat prestasi masyarakat Indonesia dalam skala yang besar?

Baik secara jasmani maupun secara mental.

Saya ceritakan pengalaman berdikusi dengan satu Ketua Bidang Mobilisasi Sumber Daya KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Pusat, Mayjend. Purn. Gadang Pambudi.

Mengenai hakekat PON bagi kehidupan berbangsa. Lalu, rentang sekitar sebulan berikutnya setelah diskusi itu, muncul berita yang membuat saya tersenyum.

Karena berita itu tidak jauh dari diskusi antara saya dengan Mayjend. Gadang pambudi. Inti berita itu ialah Kementerian Pemuda dan Olahraga menetapkan tuan rumah PON Ke-XXI tahun 2024 pada dua provinsi: Aceh dan Sumatera Utara.

Setelah sekitar delapanpuluh tahun tuan rumah PON selalu tunggal atau hanya satu provinsi. Inilah bukti bahwa melalui pelaksanaan PON, dilakukan percepatan pemerataan pembangunan bagi seluruh provinsi di Indonesia.

Tetapi sore itu, obrolan mengenai PON tidak lagi istimewa bagi saya. Karena masih adanya beberapa kelemahan di dalam pelaksanaan PON yang hingga saat ini belum dibenahi.

Di antaranya adalah permasalahan PON itu sendiri yang bisa dilakukan dengan mendatangkan penonton ke stadion.

Ini yang membuat saya menggagas event Pesta Olahraga Buruh Indonesia (POBI) yang akan diselenggarakan bersama oleh IKPORI, Bina Bangun Bangsa dan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), agar event olahraga secepatnya menjadi tontonan televisi nasional.

Karena itulah perhatian saya tertuju pada obrolan mengenai teman saya, ketika ia menjadi Presiden Indonesia.

Begitu bersemangatnya ia menguraikan tentang tatanegara dan tatakelola negara.

Penjelasan yang sederhana tentang pembangunan ekonomi dari hulu ke hilir, dari penghasil suatu produk hingga menjadi pengguna.

Skema pendapatan negara harus diubah dengan orientasi eksport. Eksploitasi ekonomi harus dimulai dengan menggerakkan aktifitas ekonomi yang dijalankan oleh masyarakat hingga masyarakat memiliki kemampuan daya saing dalam globalisasi dunia.

Tidak ada lagi istilah berbagi kekuasaan dalam pemerintahan. Tetapi pemerintah menjadi pengabdi negara dengan berpijak pada garis-garis besar haluan negara untuk memakmurkan bangsa.

Mengajak seluruh komponen bangsa untuk menjadikan hukum sebagai navigasi dalam menjalani sosialita kehidupan bermasyarakat.

Mengubah posisi masyarakat tak lagi sebatas penjual dan pengguna produk asing yang pabriknya berdiri di tanah negeri ini, tetapi untuk menjadi pemilik industri melalui sistem ekonomi koperasi.

Gerimis pun berhenti, seolah terkalahkan oleh semangat kami mengobrol. Kalimat teman kami yang runtun dengan artikulasi yang jelas, tidak bertele-tele menjadi satu-satunya suara di sekitar warung kopi yang ramai pengunjung.

Sedikit pun kami tidak terusik. Bahkan kami tidak ngeh, tak bereaksi tatkala mangkok seblak teman kami yang telah kosong dibenahi oleh penjaga warkop.

Kami bertiga masih dihanyutkan oleh kalimat teman kami mengenai sikap negarawan pemimpin Indonesia.

Ia memandang Indonesia akan lebih gagah ketika Indonesia berubah menjadi Republik Nusantara. Bahwa manajemen perang dapat mengubah kondisi suatu negar dan bangsa Indonesia yang mengubah nama negaranya menjadi Republik Nusantara dengan sendirinya akan menghapuskan hutang negara yang menggelayut di bahu masyarakat saat ini.

Kemudian saya menanggapi dengan adanya perubahan politik demokrasi di dalam pemilihan umum. Masyarakat di Nusantara Bagian Barat, di Nusantara Bagian Tengah, dan di Nusantara Bagian Timur akan mencari pasangan terbaiknya untuk mereka antar sebagai senator di dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Melalui pemilu dengan tiga pasang senator dari tiga bagian wilayah Nusantara itu, Negara Republik Nusantara akan memiliki Presiden dan Wakil Presiden Nusantara yang bermental negarawan: dihormati oleh bangsanya dan disegani oleh dunia.

Sungguh obrolan yang bikin urat kepala berdenyut, sepanjang sore hingga langit memperlihatkan wajahnya yang buram, tak ada bulan pun tak ada kerlip gemintang.

Korupsi yang masih dinikmati oleh sebagian birokrat dan penghamburan anggaran negara pada program yang tidak penting. Dan teman kami membenarkan pemikiran Presiden Indonesia ke-IV Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang penghapusan Kementerian Sosial.

Aah… Betapa risaunya teman kami ini. Lalu kami saling menyentuhkan kepalan tangan, beranjak dari warung kopi. Wajah malam masih remaja.

Saya cukupkan tulisan ini sampai di sini. Karena saya merasa cukup dan juga karena kacamata yang membuat mata saya cepat lelah di depan laptop tua.

Namun, percayalah saudaraku, ketika nanti engkau menjadi Presiden Nusantara, saya akan berada di dalam barisan rakyat negeri ini untuk menantang cita-citamu serta menyaksikan pengabdianmu mewujudkan Republik Nusantara yang Pancasila..! ©

Jakarta, pekan kedua Januari 2021.

Penulis adalah praktisi crew event olahraga di Indonesia yang bernaung di bawah yayasan IKPORI.

 

Baca Juga

Komentar Anda

Your email address will not be published.