Bagaimana Peran Perempuan Dalam Tonggak Parlemen Indonesia

851

INAnews.co.id, Jakarta – Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia menyelenggarakan talk show untuk memperingati
Internasional Women’s Day yang jatuh pada tanggal 8 Maret, 2021.

Acara yang bertempat di halaman Gedung Nusantara V MPR DPR RI berlangsung selama tiga hari sampai dengan tanggal, 15 Maret, 2021.

Dengan tema Kiprah Perempuan Parlemen dengan tema Representasi Kepemimpinan Pada Tonggak Pemerintahan Daerah.

Para pembicara menghadirkan;
Hjh.Nurhayati Monoarfa, Anggota Komisi II, DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan dari Jawa Barat IX, Rezka Oktoberia, SE, Anggota Komisi II, DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat dari Dapil II Sumatera Barat, Hjh. Instsiawati Ayus, S.H,M.H, Anggota DPD darii Partai Persatuan Pembangunan mewakili Provinsi Riau dan acara di pandu oleh Moderator Fristian Griec, presenter Berita RTV.

Dalam paparannya Nurhayati,menyampaikan Perempuan Indonesia menjadi anggota di Parlemen sebagai wakil rakyat dan berkiprah di dunia politik bukan persoalan mudah.

“Meski dari hasil data yang ada, jumlah penduduk perempuan lebih banyak , dan motivasi perempuan Indonesia dengan jenjang pendidikan Strata Satu lebih banyak oleh kaum pria,” tutur Nurhayati.

“Sebenarnya sudah sangat mudah untuk menyuarakan terpilihnya banyak perempuan di parlemen tetapi pada kenyataannya paradigma yang berkembang di masyarakat masih banyak yang menghendaki pemimpinnya datang dari kaum Pria,” sambung Nurhayati.

Menurutnya perempuan lebih responsif terhadap berbagai situasi kemasyarakatan, suara perempuan dalam berbagai perjuangan itulah akhirnya diperlukan di parlemen untuk menjadi wakil rakyat

“Perempuan berkiprah dan bisa sukses membutuhkan berbagai dukungan dan sarana dari berbagai pihak. Dikeluarga dukungan datang dari suami untuk perempuan menjalankan perannya di parlemen tanpa mengabaikan tugas utama sebagai ibu,” ungkap Nurhayati.

Perempuan harus di berikan fasilitas karir dalam kiprahnya mencapai kesuksesan. Sebagai seorang ibu yang mengurus berbagai kepentingan dirumah maka dibutuhkan jam bekerja lebih cepat kembali ke rumah dibandingkan dengan kaum Pria.

“Kaum perempuan perlu fasilitas anggaran untuk karier politiknya,” ucap Nurhayati.

Rezka Oktoberia di kesempatannya menyatakan, bangsa Indonesia cukup bangga pernah dipimpin oleh seorang presiden perempuan, Megawati Soekarno Putri, dan Saat ini Ketua DPR RI adalah seorang perempuan, Puan Maharani, di pemerintahan Presiden Jokowi memiliki Lima orang menteri perempuan.

Hal ini membuktikan bahwa kesetaraan Gender dan kesempatan bagi perempuan untuk memimpin terus mengalami perkembangan.

” Di Jawa Timur yang begitu heterogen tetapi sukses dipimpin oleh Gubernur Kofifah Indar Parawangsa dan Tri Rismaharini sebagai Walikota,” tambah Rezka Oktoberia.

Rezka katakan, melihat kondisi demografi Sumatera Barat dengan budaya yang kuat memegang teguh adat istiadat tidak memungkinkan Rezka Oktoberia untuk menemui masyarakatnya hingga malam hari.

Namun dengan strategi menggandeng berbagai jaringan dan organisasi perempuan untuk menjadi jembatan komunikasi dalam menjalankan visi dan misinya.

“Saya sebagai perempuan Minang yang memahami benar adat budaya harus mampu melihat kondisi di lapangan dengan berbagai kendala bagi seorang perempuan tidak membuatnya patah arang,” ucap Rezka.

Rezka Oktoberia yang juga Ketua Perempuan Demokrat, Sumatera Barat itu mengatakan bahwa perempuan memiliki banyak kemampuan dan bisa menjadi pemimpin, tetapi berbagai dukungan diperlukan terutama dari parpol untuk membuat strategi dengan pembinaan dan pembekalan kepada kaderisasi perempuan.

“Sehingga bagi kader perempuan yang belum memiliki kesempatan menduduki jabatan bisa mempersiapkan kembali untuk maju menjadi perempuan terpilih,” ucapnya.

Begitu juga dirinya setelah menjadi anggota DPR RI masih membutuhkan strategi dengan melihat langsung bagaimana para pimpinan di DPR RI terutama ketua DPR RI, Puan Maharani menjalankan agenda kerja dan pada saat turun ke daerah.

Berbagai strategi dalam keanggotaannya di DPR RI adalah kesempatan menyuarakan hak perempuan dan peninjauan terhadap masih tingginya angka kekerasan terhadap kaum perempuan.

Sementara, Instsiawati Ayus, didalam menjalankan tugasnya diawali dengan restu suami dan keluarga, serta menjalankan dengan penuh ke ikhlasan.

Menurut Intsiawati Ayus, perempuan memiliki ketelitian dan peka terhadap rasa.

“Sekuat apapun menjalankan tugas Perlu kelogowoan jika sesuatu pekerjaan tidak dapat terealisasi dan tidak dapat memuaskan konstituennya” tambah perempuan kelahiran Bengkalis yang menjabat sebagai Anggota DPD RI empat periode sejak tahun 2004 sampai dengan 2024

Berbagi pengalamannya, Ia mengatakan, untuk menjadi anggota DPD RI sama dengan proses pemilihan menjadi Gubernur ,tentunya penuh perjuangan dan sangat membutuhkan dukungan partai politik.

Menjadi anggota DPD RI, menurut
Instsiawati Ayus ,
bagaimana bagaimana perempuan merasa aman dari sisi finansial.

“Saya selalu bekerja sama dengan anggota DPR RI terutama dengan Komisi II dengan ibu Hjh. Nurhayati di kamar sebelah untuk membahas berbagai permasalahan,” tambah Instsiawati Ayus.

Menurut Intsiawati tidak disebutkan pemimpin itu adalah laki-laki, hal ini dapat dijadikan dasar untuk perempuan agar supaya tidak di diskriditkan dari perilaku kita kaum perempuan yang sudah ekstra bekerja di rumah dan di masyarakat.

” Saya tidak pernah mengganti nomor telepon untuk memudahkan masyarakat menghubungi saya, dan itu adalah bagian dari strategi didalam memudahkan masyarakat untuk memberitahu berkaitan dengan tugasnya sebagai Wakil Rakyat dalam rangka membangun trust kepada masyarakat yang telah memilihnya” tambah Instsiawati

 

Reporter : Dyan Sevika

Editor : M. Helmi R

Komentar Anda

Your email address will not be published.