Partai Buruh Bangkit, Lihat Apa Kata Elly Rosita Silaban !

1.110

INAnews.co.id, Jakarta – Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Elly Rosita Silaban merespons soal rencana dihidupkannya kembali Partai Buruh untuk bisa ikut Pemilu 2024. Menurutnya. Partai Buruh akan bernasib sama seperti partai baru lainnya yang kesulitan ikut pemilu.

“Partai Buruh ini nasibnya bakal sama dengan partai-partai baru yang kesulitan ikut pemilu. Jika bisa ikut pemilu sulit lolos Senayan,” Ungkap Elly pada media INAnews, Minggu (3/10/2021).

Elly mengingatkan, mendirikan Partai Buruh tidak cukup dengan modal angka data statistik jumlah buruh yang tahun ini berjumlah 128 juta. Atau hanya karena ketidakpuasan politik, apalagi romantisme aktivis buruh.

Partai Buruh prospeknya suram. Sebab, dalam banyak sejarah, pendirian Partai Buruh sering berakhir dengan kisah pilu.

“Karena kebanyakan berpikir akan sukses dengan jumlah potensi suara pekerja yang masif,” ujar Elly.

Menurutnya, perlu upaya ekstra agar Partai Buruh bisa sukses pada Pemilu 2024. Ia mengatakan, keberhasilan itu tergantung dari kerja politik Partai Buruh.

“Kalau massif pasti laku karena ceruk pemilih makin sempit, Butuh upaya lain untuk jauh lebih dikenal di segmen pemilih lain.”

“Di Indonesia ada banyak organisasi buruh. Selain itu, belum tentu juga buruh akan memilih Partai Buruh.”

Lebih lanjut Elly mencoba mengungkapkan fakta dan sejarah Partai Buruh dari belahan Dunia hingga di Indonesia.

“Kehebatan Labour Party di Inggris, Australia, Wales, New Zealand, terjadi karena kekhasan kelompok commonwealth countries. Sedangkan situasi tersebut tidak bisa dialami negara lainnya, kecuali Norwegia, Israel, Brasil dengan Partido Trabalhista yang memiliki kaum kiri yang banyak. “Itulah sebabnya di luar negara-negara ini, umumnya Partai Buruh gagal total,” jelasnya.

Berkaca dari pengalaman sejarah Partai Buruh, inilah prasyarat Partai Buruh di negara lain sukses, sementara di negara lainnya banyak gagal.

Pertama, menurut Elly perlu di ingat bahwa saat Labour Party di Inggris, Australia, Austria, New Zeland didirikan, jumlah buruh yang menjadi anggota serikat buruh (trade union density) sudah 35 persen dari keseluruhan buruh nasional.

Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 2,7 juta hanya 2 persen dari total pekerja. Ini menjadi parameter penting karena sebagai basis potensi pemilih. “Untuk angka threshold partai politik saja jumlah 2,7 juta ini tidak cukup. Padahal belum tentu semua memilih Partai Buruh,” Tegasnya.

Kedua, lanjut dia, hanya boleh ada satu serikat konfederasi nasional di negara tersebut, agar saluran politik buruh hanya melalui satu serikat tunggal. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki ratusan serikat buruh. Misalnya di Inggris hanya satu (Trade Union Council), Australia (Australian Trade Union Confederation) dan lainnya. Kecuali di Brasil ada beberapa serikat, karena memang beda sejarah dengan negara persemakmuran.

Ketiga, hal paling penting Elly menuturkan, sejumlah partai politik biasanya hanya dua kadang ada partai konservatif versus Partai Buruh, atau partai nasionalis versus Partai Buruh. Karena kalau banyak partai, suara buruh akan terpecah ke beberapa partai.

Mengapa serikat buruh di USA, German, Prancis, Austria, Denmark, Belgia, Italia, dan lainnya tidak menggunakan Partai Buruh? Tetapi malah memakai Partai Sosial Demokrat? Karena mereka tidal memiliki salah satu atau tiga alasan di atas.

Mengapa Leach Walesa, Polandia saat revolusi tidak menggunakan Partai Buruh malah dengan serikat Solidarnoz? Mengapa India, Jepang, Korea, Philippina dan lainnya gagal mendirikan Partai Buruh ? Lagi-lagi karena alasan tersebut.

“Saya memilih lebih baik belajar dari pengalaman orang lain, ketimbang membayar mahal kegagalannya”. Tegas Elly.

“Namun, karena mendirikan Partai Buruh adalah hak konsitusional, jadi silakan, mana tau sejarah dunia lain tidak berlaku di Indonesia,” pungkas Elly.

Baca Juga

Komentar Anda

Your email address will not be published.