Masyarakat Minta APH Proses Hukum, Preservasi Jalan Kolongan, Kawangkoan, dan Sampiri Diduga Sarat Korupsi

2,367

 

INAnews.co.id Minahasa Utara— Pekerjaan Preseevasi Jalan ruas Kolongan, Kawangkoan, Sampiri tahun anggaran Rp 16.251.350.200 TA 2023 dengan tanggal kontrak 17 Maret 2023 yang dikerjakan perusahan PT. Dayana Cipta dengan waktu pekerjaan 281 hari, diduga sarat korupsi.

Pekerjaan yang dianggarkan lewat Dinas PUPR Kabupaten Minahasa Utara (Minut), tercium aroma korupsi dan sangat merugikan Negara. Pasalnya pekerjaannya tidak sesuai Spek kwalitas mutu, baik dari segi material dan proses pekerjaan. Jumat 22 Maret 2024.

Pekerjaan tersebut menimbulkan banyak pertanyaan bagi masyarakat, masyarakat mempertanyakan jarak jalan yang diaspal, karena menurut masyarakat pengaspalan tersebut hanya berpindah-pindah, bahkan jalan yang tidak diaspal ikut dicat warna putih seakan-akan jalan tersebut ikut dikerjakan, sehingga masyarakat berasumsi bahwa jalan yang tidak diaspal pun ikut dibayarkan.

Ada pun hasil investigasi awak media di lapangan, awak media menemukan sejumlah temuan diantaranya awak media menduga aspal yang dipakai adalah aspal yang sudah tidak pada suhu panas yang seharusnya, sehingga jalan yang baru selesai diaspal banyak yang mengalami keretakan.

Bahkan awak media pun mendapati darinase yang baru selesai dikerjakan banyak yang rusak diduga campuran material untuk pembuatan drainase campurannya tidak sesuai standart sehingga berpotensi ambruk.

Mirisnya lagi temuan dari awak media ada beberapa titik yang ada didrainase tersebut, terdapat sejumlah bebatuan yang sangat besar yang tidak diangkat sehingga bebatuan tersebut menghalangi air yang akan mengalir didalam drainase.

Akibat dari tidak diangkatnya bebatuan tersebut, masyarakat mengatakan ketika hujan turun air yang ada didalam drainase meluap kejalan dan masuk kerumah-rumah warga, dan material batu yang dipakai untuk pembuatan drainase tersebut memakai batu berongga dan berlumpur.

“Kalau hujan lebat, air sering masuk kerumah saya karena ada batu besar yang menghambat drainase dan jika selesai hujan, drainase yang terhalang batu menjadi kolam, apakah pekerjaan ini seperti itu,” ucap seorang ibu yang tinggal di Desa Sampiri.

Awak media juga menemukan, bahwa ada sejumlah pemasangan rabat beton ketebalannya tidak sampai 10cm, dan juga pemadatan tanah tersebut tidak sesuai sehingga rabat beton sudah banyak yang berlubang, dan juga ada beberapa titik pemasangan batu lebih tinggi dari rabat beton sehingga air mudah meluap dan merusak jalan aspal yang baru dibuat.

Masyarakat berharap baik pemerintah dan pihak kontraktor dapat memperbaiki kembali seluruh item pekerjaan yang tidak sesuai standart, karena akibat dari pekerjaan tersebut sangat berdampak buruk bagi masyarakat.

Diketahui lapisan aspal beton (Laston), tidak sesuai ketebalan minimum dan temuan awak media rata-rata ketebalan Laston tersebut hanya 1-2 cm, sedangkan ketebalan Laston yang seharusnya adalah ac-wc 4cm, ac-bc 6 cm, dan ac, base 7,5 cm.

Dari sejumlah temuan tersebut, masyarakat meminta kepada Aparat Penegak Hukum (APH), agar dapat memeriksa dan memproses secara hukum bagi pihak-pihak yang terkait dalam hal ini pihak PUPR Minut dan Kontraktor PT. Dayana Cipta.

Ketika hal tersebut dikonfirmasikan ke Bupati Minut Joune Ganda, mengatakan bahwa dalam pekerjaan tersebut tidak ada temuan dari pihak BPK baik drainase maupun pekerjaan jalan.

“Dan baru pemeriksaan BPK dilokasi tidak ada temuan baik dranacenya dan ketebalan aspal pak TKS”, singkat Bupati Minut.

Baca Juga

Komentar Anda

Your email address will not be published.