INAnews.co.id, Jakarta- Profesor Muhammad Syafi’i Antonio mengungkapkan tiga pendekatan baru dalam memahami peristiwa Isra Miraj yang relevan dengan kehidupan modern. Pakar ekonomi syariah ini menyampaikan ceramahnya yang ditayangkan di kanal YouTube pribadinya pada Ahad (11/1/2026).
Dalam ceramah tersebut, Prof. Syafi’i menegaskan bahwa Isra Miraj memiliki tiga dimensi penting: pengembangan diri melalui shalat, kemajuan sains dan teknologi berbasis akhlak, serta persatuan umat Islam global (pan-Islamisme).
“Isra Miraj bukan hanya peristiwa spiritual masa lalu, tetapi blueprint kemajuan umat Islam hari ini,” ujar Prof. Syafi’i dalam ceramah yang diikuti langsung dan melalui Zoom.
Ia menjelaskan bahwa isra merepresentasikan dimensi horizontal—kewajiban mengunjungi tempat baru, bertemu orang baru, dan melihat peradaban baru untuk memperluas wawasan. Sementara miraj melambangkan dimensi vertikal—peningkatan ilmu pengetahuan, kompetensi, dan sertifikasi secara berkelanjutan.
Prof. Syafi’i menekankan empat fungsi shalat dalam self-development: time management, moral compass, penguat karakter, dan emotional regulation. “Jika kita disiplin dengan waktu shalat, insyaallah kita akan disiplin dengan pengaturan waktu dalam semua aspek kehidupan,” jelasnya.
Terkait sains dan teknologi, ia mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Moshe Dayan, yang menyebut bahwa Arab tidak perlu ditakuti karena “tidak mau membaca, dan jika membaca tidak paham, dan sekalipun paham tidak dikerjakan.”
“Teknologi tanpa akhlak adalah kehancuran. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu akan menjadikan kita stagnasi,” tegasnya, seraya mengutip Albert Einstein yang menyatakan sains tanpa agama adalah kebutaan, sementara agama tanpa sains adalah kelumpuhan.
Dalam konteks pan-Islamisme, Prof. Syafi’i mengingatkan kondisi umat Islam yang tercerai-berai di berbagai belahan dunia, dari Palestina, Yaman, hingga Sudan. Ia menekankan prinsip “nata’awanu fima ittafaqna ‘alaihi wa ya’dziru ba’dhuna ba’dhan fima ikhtalafna fihi” (bekerja sama dalam hal yang disepakati dan saling memaafkan dalam perbedaan).
“Jangan fokus pada perbedaan. Antara Muhammadiyah dan NU ada perbedaan dalam qunut dan tahlil, tapi dalam memerangi pornografi, narkoba, dan memberdayakan UMKM kita sama. Kerja sama dalam yang sama saja,” ujarnya.
Prof. Syafi’i menutup ceramahnya dengan harapan agar peringatan Isra Miraj dapat mendorong umat Islam untuk terus meningkatkan diri, menguasai ilmu pengetahuan, dan memperkuat persatuan.






