INAnews.co.id, Jakarta– Presiden Prabowo Subianto memaparkan secara detail data perampokan negara senilai fantastis kepada lima tokoh oposisi dalam pertemuan tertutup di Istana. Pengamat politik Said Didu mengungkapkan, Prabowo menyebutkan nama-nama pelaku dan langkah yang akan diambil untuk menindak mereka.
“Bayangkan Presiden mempresentasikan sendiri tentang perampokan negara. Berapa besar yang dirampok, siapa perampoknya dan apa yang akan dilakukan terhadap para perampok,” ujar Said Didu saat diwawancarai Akbar Faizal di kanal Akbar Faizal Uncensored, Sabtu (14/2/2026).
Menurut Said Didu, data yang dipaparkan Presiden menunjukkan under invoice saja selama 30 tahun mencapai USD 1.001 triliun atau setara Rp20.000 triliun. Belum termasuk penyelundupan dan praktik ilegal lainnya.
“Presiden punya angka semua. Dari judi online USD 12 miliar, dari BUMN USD 20 miliar. Ada 20 item yang dicatat lengkap,” kata Said Didu yang hadir bersama Abraham Samad, Siti Zuhro (LIPI), Hersubeno Arif, dan Susno Duadji dalam pertemuan tersebut.
Prabowo menyebut pelaku under invoice berasal dari sektor batubara, nikel, dan CPO. “Nama-nama yang disebutkan tidak jauh beda dengan nama yang sering saya sebutkan,” ungkap Said Didu tanpa merinci identitas mereka.
Presiden juga menyampaikan langkah penanganannya. “Pak Presiden bilang akan mengingatkan mereka dulu untuk berhenti merampok. Kalau tidak berhenti, hukum harus berlangsung secara tegas,” kata Said Didu.
Prabowo bahkan mengancam akan mengumumkan nama-nama pelaku ke publik jika tidak mau menghentikan praktik tersebut. “Saya akan umumkan saja nama mereka dan biar rakyat melakukan hukuman terhadap mereka. Tapi saya tidak akan melakukan itu karena saya tidak mau bangsa ini terjadi revolusi,” ujar Prabowo saat itu.
Said Didu menilai Prabowo adalah presiden ke-8 yang berani menyentuh oligarki. “Dari tujuh presiden sekarang, Bapak Presiden kedelapan yang berani menyentuh oligarki,” katanya.






