Menu

Mode Gelap
Catut Nama Presiden Prabowo, CWIG Desak Kasus PT BAT Bank Naik ke Penyidikan Polisi Indonesia Siap Operasionalkan Nilai Ekonomi Karbon Wamen LHK Ungkap Kesenjangan Pendanaan Iklim Keberhasilan Pasar Karbon tak Hanya Tergantung Regulasi, tapi Kolaborasi Pemangku Kepentingan Indonesia Amankan Pasokan Minyak Mentah dari Rusia hingga Akhir Tahun Polri Umumkan Rekrutmen Akpol 2026 Bebas Titipan, Mahfud: Buah Reformasi

ENERGI

Harga Minyak Diprediksi Capai USD 114 per Barel pada Mei 2026

badge-check


					Foto: Afaqa Hudaya Perbesar

Foto: Afaqa Hudaya

INAnews.co.id, Jakarta– Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kian meningkat memunculkan ancaman serius terhadap pasokan energi global. INDEF memperingatkan bahwa Indonesia, sebagai net importer minyak dan gas, berada di posisi paling rentan terhadap volatilitas harga yang berpotensi terjadi.

Dalam diskusi publik Senin (9/3/2026), peneliti Pusat Pangan Energi dan Pembangunan Berkelanjutan INDEF, Afaqa Hudaya, memaparkan bahwa harga minyak Brent sempat menyentuh USD 90 per barel dan diproyeksikan bisa melonjak hingga USD 114,17 per barel pada Mei 2026—naik sekitar 23,17 persen.

Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima dari total minyak mentah global dan sejumlah besar LNG setiap harinya. Pembakaran kilang minyak di Arab Saudi juga turut memperkeruh ketidakpastian pasar energi.

“Gangguan terhadap arus lalu lintas melalui selat ini punya potensi langsung mempengaruhi pasokan dan harga minyak global,” ujar Huda.

Bagi Indonesia, situasi ini sangat mengkhawatirkan. Neraca perdagangan migas Indonesia sudah terjebak dalam zona defisit selama satu dekade terakhir (2016–2025). Pada akhir 2025, defisit migas masih tercatat USD 2,09 miliar, seiring meningkatnya volume impor migas dan menurunnya kinerja ekspor.

INDEF juga menyoroti rencana pengalihan sumber impor minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat sebagai respons atas kesepakatan tarif resiprokal. Langkah ini dinilai berpotensi memperburuk struktur defisit karena Indonesia akan kehilangan akses ke harga kompetitif dari Timur Tengah, sekaligus menghadapi potensi inefisiensi proses blending di kilang domestik akibat perbedaan spesifikasi minyak mentah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Indonesia Siap Operasionalkan Nilai Ekonomi Karbon

17 April 2026 - 23:24 WIB

Wamen LHK Ungkap Kesenjangan Pendanaan Iklim

17 April 2026 - 20:24 WIB

Keberhasilan Pasar Karbon tak Hanya Tergantung Regulasi, tapi Kolaborasi Pemangku Kepentingan

17 April 2026 - 17:21 WIB

Populer EKONOMI