INAnews.co.id, Jakarta– Ancaman ekonomi dari eskalasi perang di Timur Tengah mulai dirasakan nyata. Mardigu Wowiek mengungkapkan bahwa sejumlah mantan Gubernur Bank Indonesia dan mantan Menteri Keuangan telah bertemu membahas skenario terburuk jika harga minyak mentah melonjak akibat konflik yang kian meluas.
Dalam hitungan yang disampaikan Mardigu di kanal YouTube Helmy Yahya, Rabu, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 20 per barel akan melemahkan rupiah sekitar Rp1.000. Dengan harga minyak saat ini sudah menyentuh USD 120 per barel, jika konflik mendorong harga ke USD 150, rupiah bisa menembus Rp21.000 per dolar.
“Diperkirakan bisa 154 dolar per barel. Bisa collapse Indonesia,” kata Mardigu mengutip kekhawatiran para bankir senior.
Selain tekanan nilai tukar, Mardigu juga memperingatkan dampak pada sektor kesehatan. Sebanyak 94 persen bahan baku obat-obatan Indonesia diimpor. Jika rantai distribusi global terganggu akibat konflik di Selat Hormus dan penutupan jalur penerbangan di kawasan Teluk, kelangkaan obat bisa menjadi krisis kemanusiaan tersendiri.
Di sisi lain, keduanya melihat peluang bagi Indonesia. Dalam daftar negara paling aman jika terjadi perang skala luas, Indonesia menempati posisi keempat. Connie dan Mardigu mendorong pemerintah untuk memanfaatkan momentum ini menarik modal dan wisatawan asing yang mencari tempat berlindung yang stabil.






