INAnews.co.id, Jakarta-Menjelang Lebaran 2026, tekanan harga pangan kembali menjadi perhatian. INDEF mencatat bahwa meski harga pangan global memasuki fase stabilisasi, kondisi domestik masih diwarnai kenaikan harga sejumlah komoditas strategis—bahkan ketika stok sebenarnya mencukupi.
Dalam diskusi publik Senin (9/3/2026), peneliti INDEF Afaqa Hudaya menjelaskan bahwa inflasi administered price pada Februari 2026 mencapai 12,66 persen year-on-year, sementara komponen volatile food juga mencatat kenaikan tajam yang mengindikasikan kenaikan permintaan akibat Ramadan.
Yang menjadi perhatian khusus adalah disparitas harga antardaerah. Data menunjukkan harga bawang merah dan cabai mengalami kenaikan meski stok tersedia, sebuah anomali yang menurut INDEF mencerminkan persoalan struktural yang belum terselesaikan.
“Hal ini menunjukkan adanya faktor struktural seperti asimetri informasi terkait rantai pasok dan inefisiensi distribusi regional,” ujarnya.
INDEF mengidentifikasi tiga akar masalah: pertama, distribusi logistik yang masih terpusat sehingga menimbulkan disparitas harga antara provinsi. Kedua, asimetri harga di mana kenaikan dari tingkat petani lebih cepat merembet ke tingkat eceran dibanding penurunannya. Ketiga, faktor musiman seperti cuaca ekstrem dan pembatasan impor yang membuka celah bagi spekulasi pedagang.
Huda mengingatkan bahwa peningkatan permintaan saat Ramadan dan Lebaran berpotensi memperkuat tekanan tersebut apabila pasokan tidak diantisipasi dengan baik. “Persoalan ini sudah rutin, tetapi belum pernah terselesaikan secara fundamental,” tandasnya.






