INAnews.co.id, Jakarta– INDEF dengan tegas menyatakan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4–5,5 persen pada 2026 sudah tidak realistis. Penilaian ini disampaikan dalam diskusi publik yang digelar Senin (9/3/2026).
Peneliti makroekonomi INDEF Abdul Manap Pulungan memaparkan sejumlah alasan. Pertama, konsumsi rumah tangga—yang menjadi kontributor terbesar PDB—tumbuh di bawah laju pertumbuhan ekonomi, hanya 4,94 persen pada tahun lalu. Pengangguran masih berada di kisaran tujuh juta orang lebih, dan penyerapan tenaga kerja lebih didominasi oleh sektor informal dengan pendapatan tidak menentu.
“Angka 5,5 persen itu belum pernah kita capai dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.
Kedua, inflasi menekan dari segala sisi kecuali inflasi inti. Ia menyoroti bahwa inflasi inti—yang seharusnya mencerminkan kekuatan daya beli—hanya naik karena lonjakan harga emas, bukan akibat peningkatan pendapatan masyarakat umum. Hal ini menunjukkan kenaikan konsumsi hanya terjadi di kelompok atas.
Data simpanan perbankan pun mempertegas ketimpangan ini. Rata-rata simpanan masyarakat hanya Rp1,67 juta per bulan, sementara kalangan atas dengan simpanan di atas Rp5 miliar justru mencatat peningkatan signifikan hingga Rp35,89 miliar per orang pada 2025.
“Ekonomi kelas menengah ke bawah semakin terjepit, padahal jumlahnya sangat banyak,” ujar Abdul Manap. Ia memperkirakan konsumsi tinggi selama Ramadan hanya akan dinikmati oleh kelas menengah atas, sementara mayoritas masyarakat masih dalam kategori ‘hampir miskin’ di kisaran pengeluaran 2–5 dolar per hari.






