INAnews.co.id, Jakarta– Rusia dan China memang tidak membuat pernyataan terang-terangan mendukung Iran. Tapi Connie Rahakundini Bakrie menegaskan bahwa diam tidak berarti tidak membantu. Ia menilai gaya Presiden Vladimir Putin memang tidak pernah mengumbar dukungan secara terbuka, bukan berarti ia tidak bergerak di belakang layar.
Bukti paling nyata, kata Mardigu Wowiek, terlihat dari pemantauan satelit di Selat Hormus. Di tengah situasi di mana Lloyd’s of London mencabut semua asuransi kapal yang melintas, memaksa lebih dari 2.000 kapal berhenti beroperasi, ada 50 hingga 70 kapal yang setiap harinya tetap bolak-balik melewati selat itu tanpa gangguan. Sebagian besar adalah kapal tanker milik China yang mengangkut energi.
“Di situlah kontribusinya Iran: dia payback, terima kasih loh support gua. Dan itu terlihat bahwa Iran memang dibantu sama China,” kata Mardigu Wowiek dalam wawancara di kanal YouTube Helmy Yahya, Rabu (11/3/2026).
Connie juga menyinggung soal peran tidak langsung China dalam memasok teknologi dan peluru kendali ke Iran, serta potensi dukungan intelijen dari FSB Rusia. Ia menilai dalam konteks BRICS dan ambisi Putin membangun kemitraan Eurasia yang lebih besar, Rusia tidak akan mau mengambil risiko terlibat langsung tetapi tidak mungkin membiarkan Iran kalah.
Sementara itu, Korea Utara di bawah Kim Jong Un disebut-sebut masih bersikap menunggu, kemungkinan menghitung momentum terbaik untuk ikut masuk di saat yang paling menguntungkan.






