INAnews.co.id, Jakarta– Di balik keputusan militer Amerika Serikat menyerang Iran, Connie Rahakundini Bakrie dan Mardigu Wowiek melihat motif politik domestik yang kuat. Keduanya meyakini serangan ini merupakan manuver pengalihan isu di tengah tekanan dalam negeri yang kian menghimpit Presiden Donald Trump.
Mardigu menyebut beredarnya rekaman suara yang diduga milik Trump, berisi pernyataan bahwa serangan terhadap Iran perlu disegerakan untuk menutup perhatian publik dari berkas Epstein yang mulai bergulir di Kongres. Meski ia mengakui belum dapat memverifikasi keaslian rekaman tersebut, ia menilai konteksnya sejalan dengan pola manuver yang selama ini dilakukan Trump.
Connie menambahkan bahwa posisi politik Trump semakin goyah. Gerakan untuk melengserkannya melalui mekanisme impeachment disebut terus menguat, bahkan di kalangan internal militer Amerika sendiri. Ia mengutip laporan mengenai puluhan perwira marinir pensiunan yang secara terbuka menolak keterlibatan dalam perang ini.
“Ini perangnya Trump, ini bukan perangnya Amerika,” mengutip pernyataan para perwira pensiunan AS dalam wawancara di kanal YouTube Helmy Yahya, Rabu (11/3/2026).
Menurut Connie, Amerika sebenarnya semula hanya ingin menjalankan ‘Jakarta Method’, memecah belah masyarakat Iran dari dalam, menyiapkan kandidat pemimpin baru, lalu menciptakan momentum pergantian rezim. Namun skenario itu justru berbalik: alih-alih rakyat Iran memberontak melawan pemerintahnya, serangan dari luar malah memperkuat persatuan bangsa Iran dan melahirkan pemimpin baru yang lebih muda, lebih dekat dengan militer, dan jauh lebih anti-Barat dari pendahulunya.






