INAnews.co.id, Jakarta– Keluhan terkait kemacetan panjang di gerbang tol kembali mewarnai arus mudik Idul Fitri 2026. Para pemudik dan pengamat transportasi mendesak pemerintah untuk segera mengimplementasikan teknologi Multi Lane Free Flow (MLFF) atau sistem pembayaran tol nirsentuh demi menghapus titik hambat (bottleneck) yang menjadi sumber utama antrean kendaraan.
Pengalaman melelahkan dialami oleh Tri Sulistyono (35), pemudik asal Tangerang yang hendak menuju Purwokerto. Pada Rabu (18/3/2026), ia harus menghabiskan waktu 7 jam hanya untuk mencapai Rest Area KM 57 Karawang, padahal dalam kondisi normal jarak tersebut dapat ditempuh jauh lebih cepat.
“Saya berangkat jam 10 pagi, macet parah di pintu tol masuk arah Bekasi, Cawang, dan Cikarang. Macet karena penumpukan kendaraan yang mau masuk contraflow dan antrean ngetap kartu e-money. Kadang ada yang saldonya kurang, jadi bikin panjang antrean,” ujar Tri dalam keterangannya kepada media.
Hal senada diungkapkan Yosep (60), pengusaha asal Jakarta Timur yang menuju Rembang. Ia terjebak antrean mengular di akses masuk tol layang MBZ. Yosep membandingkan sistem di Indonesia dengan negara tetangga. “Di Malaysia kita masuk tol langsung saja, tidak harus ngetap, jadi tidak ada antrean. Saya harap MLFF segera diterapkan di sini,” tuturnya.
Analisis Pakar: Gerbang Tol Adalah “Friction Point”
Pengamat transportasi dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo, menyebut kemacetan ini sebagai fenomena klasik bottleneck. Menurutnya, kapasitas jalan turun drastis karena adanya friction point (titik gangguan) berupa gerbang tol.
“Saat ini transaksi tapping memakan waktu 4–5 detik per kendaraan. Saat arus puncak, selisih detik itu terakumulasi menjadi antrean berkilo-kilometer. Solusi paling efektif secara struktural adalah menghilangkan titik henti tersebut melalui sistem MLFF,” jelas Anton dalam keterangan yang sama.
Merespons tuntutan tersebut, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memastikan proyek MLFF tetap berjalan setelah sempat terkendala masalah teknis. “MLFF tetap berproses. Masalah teknis dan non-teknis sudah dibereskan, namun karena melibatkan banyak pihak, koordinasi lintas lembaga memang perlu waktu,” ujar Dody.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Wilan Oktavian, menambahkan bahwa saat ini pihaknya bersama PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) tengah melakukan tahap pra-uji coba.
Status Terkini: Telah dilakukan functional test dengan 64 skenario transaksi.
Hasil: Seluruh skenario berhasil dilaksanakan dan dievaluasi secara teknis.
Langkah Berikutnya: Uji coba lapangan secara bertahap sebelum implementasi luas.
“Kalau sistem sudah berfungsi, langsung kita gunakan agar manfaatnya dirasakan masyarakat tanpa harus menunggu seremoni peresmian,” tegas Wilan.
Latar Belakang Proyek
Proyek MLFF merupakan inisiasi kerja sama antara Indonesia dan Hungaria yang dimulai sejak 2016. Proyek senilai US$300 juta (sekitar Rp4,65 triliun) ini didanai sepenuhnya oleh pemerintah Hungaria melalui perusahaan teknologi Roatex Ltd. Teknologi ini memungkinkan kendaraan melintas tanpa berhenti, yang diprediksi akan meningkatkan kelancaran lalu lintas nasional secara signifikan.






