INAnews.co.id, Jakarta– Bhima Yudhistira menilai program hilirisasi nikel Indonesia selama satu dekade terakhir belum mencapai potensi penuhnya karena rantai nilai di tingkat menengah masih kosong.
Sebagian besar produk olahan nikel saat ini masih berupa produk semi-primer seperti feronikel atau nickel pig iron yang langsung diekspor, alih-alih diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai tinggi seperti prekursor baterai atau baja tahan karat. “Kita hollow in the middle,” kata Bhima dalam wawancara bersama Gita Wirjawan yang tayang Rabu (15/4/2026).
Ia menambahkan, ketidakpastian arah kebijakan akibat dinamika geopolitik, termasuk tekanan tarif dari Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, turut membuat investor ragu memperluas komitmen di sektor ini.
Bhima mendorong pemerintah untuk menetapkan industrial policy yang jelas, menjaga konsistensi kebijakan, dan memastikan investor yang sudah masuk tidak khawatir Indonesia akan kembali mengekspor bahan mentah. Ia juga melihat peluang besar untuk menghubungkan narasi hilirisasi dengan kebutuhan mineral kritis bagi pengembangan kecerdasan buatan dan transisi energi global.






