INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia berada dalam kondisi rawan energi. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, memperingatkan bahwa ketahanan stok minyak nasional hanya mencukupi sekitar 25 hari konsumsi—dan itu pun bukan milik negara, melainkan stok operasional badan usaha.
“Kalau traffic light, kita sudah berada di lampu kuning. Bukan hijau lagi. Hati-hati jangan sampai ke merah,” ujar Komaidi dalam wawancara Prime Time INAnews TV, Rabu (22/4/2026).
Konsumsi minyak Indonesia saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel. Artinya, Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta barel setiap harinya—dan seluruh jalur impornya masih melewati pelabuhan Singapura.
“Kalau Singapura diduduki selama satu bulan saja, minyak tidak bisa lewat dan kita sudah tidak bisa bergerak,” tegasnya.
Komaidi menegaskan bahwa stok 25 hari itu bukan Strategic Petroleum Reserve (SPR) seperti yang dimiliki Jepang, Korea Selatan, Singapura, maupun Malaysia. Yang ada hanyalah stok operasional milik Pertamina, VIVO, Shell, dan badan usaha lain yang belum terjual—bukan cadangan yang dikelola negara.
“Indonesia itu masih nol untuk cadangan strategis. Berbeda dengan negara-negara mapan yang punya cadangan yang dikelola langsung oleh negara,” jelasnya.
Keterbatasan ini disebabkan dua hal: kapasitas tangki penyimpanan yang hanya mampu menampung setara 25 hari konsumsi, dan keterbatasan keuangan untuk mengisi lebih dari itu. Fasilitas penyimpanan tersebar di Plumpang (Jakarta), Balongan, dan beberapa lokasi di Kalimantan.






