INAnews.co.id, Jakarta- Proyeksi pasar modal syariah Indonesia dalam 5 tahun ke depan sangat bergantung pada komitmen pemimpin di OJK, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia. Nurhastuty dalam wawancara di kanal INDEF, Selasa (14/4/2026), optimistis pasar bisa naik terus bahkan menjadi alternatif terbaik di Asia Tenggara jika ketiganya bersinergi. Sebaliknya, jika komitmen melempem, stagnasi tak terhindarkan.
Ia menyoroti dua potensi yang belum optimal: pertama, perlunya integrasi dewan syariah langsung ke dalam struktur OJK (seperti di Malaysia) agar koordinasi lebih cepat. Kedua, belum terintegrasinya tokoh masyarakat dan pesantren sebagai opinion leader dalam literasi bisnis syariah. “Mereka paham salat dan puasa, tapi soal muamalah belum. Padahal kita ingin Islam yang kafah,” pungkasnya.






