INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat politik Ray Rangkuti menegaskan bahwa fenomena relawan politik di Indonesia telah bergeser jauh dari semangat awalnya. Mereka yang semula bergerak atas dasar kesukarelaan dan kesamaan visi, kini lebih banyak berorientasi pada perburuan jabatan dan keuntungan materi pascapemilu.
“Persoalan utama kita sekarang, kata relawan itu dipergunakan justru untuk tidak menjadi relawan. Semua sekarang ditarik ke soal jabatan,” ujar Ray dalam wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Ahad (5/4/2026).
Ray menjelaskan, relawan sejati memiliki tiga ciri utama: digerakkan oleh kesamaan visi dan misi, bergerak secara mandiri dari dan untuk masyarakat, serta mencegah diri untuk terlibat dalam kekuasaan setelah kandidat yang didukung menang. Ketiga ciri itu, menurutnya, nyaris tidak ditemukan pada organisasi-organisasi yang kini mengklaim diri sebagai relawan.
Fenomena ini bahkan melahirkan apa yang disebutnya sebagai mimikri politik. Beberapa kelompok yang dulu lantang mendukung Joko Widodo dengan mudah berpindah haluan menjadi pendukung Prabowo Subianto, bahkan masuk ke struktur partai dan mendapatkan posisi wakil menteri.
Ray menyebut perilaku semacam itu lebih tepat disebut kuasawan, orang-orang yang berlomba-lomba mencari kekuasaan dengan membonceng label relawan, dan akan berpindah ke mana pun ada keuntungan yang bisa diraih.






