INAnews.co.id, Jakarta– Pakar kecerdasan buatan Randy Goebel menegaskan bahwa kesenjangan energi merupakan tantangan terbesar bagi Asia Tenggara dalam mengadopsi teknologi AI. Dalam wawancara dengan Gita Wirjawan, ia menggarisbawahi bahwa penggunaan model AI besar membutuhkan 10 hingga 50 kali lebih banyak energi dibanding pencarian Google biasa, sementara pembuatan konten visual seperti Sora bisa mencapai 10.000 hingga 50.000 kali lipatnya.
Dari sepuluh negara di kawasan, hanya Singapura dan Brunei yang telah mencapai ambang 10.000 kWh per kapita, batas minimal menuju modernitas tingkat lanjut. Indonesia masih berada di angka 1.300 kWh, Malaysia 5.000 kWh, sementara negara-negara lain berada di bawah 3.000 kWh.
Namun Goebel memberi harapan: model AI besar saat ini, katanya, bukan titik akhir dari perkembangan ilmu AI. “Trajektori dua tahun terakhir adalah bagaimana melakukan lebih banyak hal dengan lebih sedikit sumber daya,” ujarnya, yang tayang di kanal YouTube Gita Wirjawan beberapa waktu lalu.Ia membandingkan kondisi ini dengan kasus Deep Blue milik IBM yang terbukti salah ketika memprediksi bahwa semakin banyak perangkat keras berarti semakin cerdas mesin, justru pengetahuan yang lebih efisienlah yang menentukan.






