INAnews.co.id, Jakarta– Kemudahan kurban berbasis aplikasi dinilai berpotensi mengikis dimensi sosial dan spiritual yang selama ini melekat dalam ibadah tersebut. Ekonom senior INDEF, Akhmad Affandi Mahfudz, menyampaikan kekhawatiran itu dalam wawancara di kanal YouTube INDEF, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, kurban konvensional mengandung nilai gotong royong, interaksi langsung antarwarga, dan penghayatan spiritual yang sulit direplikasi secara digital. Keterlibatan fisik—mulai dari memilih hewan, menyaksikan penyembelihan, hingga berbagi daging bersama—merupakan bagian tak terpisahkan dari makna pengorbanan itu sendiri.
“Teknologi bisa mereduksi nilai kebersamaan. Tapi di sisi lain, ini membantu mereka yang memang tidak mampu hadir secara fisik karena sakit atau jarak yang jauh,” ujarnya.
Ia mewanti-wanti agar kemudahan digital tidak melahirkan sikap meremehkan ibadah. Orang yang mampu secara fisik namun memilih jalur online semata karena alasan kenyamanan, menurutnya, perlu merenungkan kembali di mana letak pengorbanan yang sesungguhnya dalam ibadahnya itu.






