INAnews.co.id, Yogyakarta– Aktivis mahasiswa—Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto menyerukan setiap mahasiswa mengambil peran revolusioner secara individual, tanpa menunggu organisasi besar bergerak. Seruan itu disampaikan di hadapan ratusan mahasiswa UII dalam forum “Terus Terang Goes to Campus,” Yogyakarta, Mei 2026.
“Cara kerja revolusi ke depan adalah memastikan bahwa setiap orang berperan secara revolusioner,” kata Tiyo, dikutip tayangan kanal YouTube Mahfud MD, Jumat (22/5/2026).
Ia menggunakan metafora saf dalam salat berjamaah: temukan barisan yang kosong dan isi, jangan dorong yang sudah ada pengisinya. Dalam konteks gerakan mahasiswa, itu berarti mencari ruang perjuangan yang belum diisi, bukan berebut posisi dalam organisasi yang sudah ada.
Tio mengingatkan bahwa gerakan rakyat yang dulu solid kini telah terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok kecil yang kehilangan daya. Agustus tahun lalu, 13 orang meninggal dan 6.000 orang ditahan dalam demonstrasi, namun tak satu pun tuntutan rakyat terpenuhi.
“Selama pendidikan dibiayai oleh pajak rakyat, maka kaum terdidik punya hutang pada rakyat. Cara paling sederhana melunasinya: tidak menambah masalah,” ujarnya.
Ia menutup dengan optimisme: “Jika UII punya sejarah mempelopori gerakan, barangkali gerakan revolusi ke depan dimulai hari ini, dan dimulai di sini.”






