Menu

Mode Gelap
Prabowo: 2045 Indonesia Jadi Ekonomi Keempat Terbesar Dunia Tiga Tahun Lagi Kita Kuat di Energi, Kata Presiden Tekiro dan ITS Surabaya Kembali Gelar Servis Gratis Dan Pelatihan Otomotif Untuk Masyarakat Surabaya Prabowo Minta Pengusaha Muda Jadi Patriot Ekonomi, Jangan Bawa Kabur Kekayaan Prabowo: 1.000 Kawan Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak Saut Situmorang Sebut Korupsi MBG Merampok Orang Lapar, Desak Purbaya Diperiksa

PENDIDIKAN

Myth vs Fact: Menjawab Mitos-Mitos Seputar Qurban di Masyarakat

badge-check


					Foto: ilustrasi (AI) Perbesar

Foto: ilustrasi (AI)

INAnews.co.id, Jakarta– Ibadah kurban adalah syariat mulia yang sarat makna. Namun di tengah masyarakat, tidak sedikit mitos yang berkembang dan kadang membuat orang ragu atau salah dalam mempraktikkannya. Penting untuk meluruskan pemahaman agar qurban dilakukan sesuai tuntunan.

Mitos 1: Kurban hanya untuk orang kaya

Faktanya, kurban memang disyariatkan bagi yang mampu, bukan hanya “orang kaya”. Ukuran mampu bersifat relatif. Banyak orang dengan penghasilan sederhana tetap bisa berkurban dengan menabung atau patungan. Dalam syariat, satu ekor sapi bisa untuk tujuh orang. Ini menunjukkan bahwa kurban adalah ibadah yang terbuka bagi siapa saja yang berusaha.

Mitos 2: Semakin mahal hewan, semakin pasti diterima

Fakta: yang Allah nilai bukan harga, tetapi ketakwaan. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan, bukan daging dan darahnya. Hewan yang baik memang dianjurkan, tetapi tanpa keikhlasan, nilainya bisa kosong.

Mitos 3: Kurban boleh dengan beli daging ke pasar tanpa penyembelihan

Fakta: kurban adalah ibadah khusus yang memiliki tata cara tertentu, termasuk penyembelihan. Membeli daging tanpa ada proses sembelih tidak memenuhi hakikat ibadah kurban. Berbeda dengan sedekah, kurban memiliki bentuk yang telah ditentukan.

Mitos 4: Tidak boleh makan daging kurban sendiri

Fakta: justru dianjurkan untuk makan sebagian dari daging kurban. Ini menunjukkan keseimbangan antara ibadah pribadi dan kepedulian sosial. Namun dalam kondisi tertentu, ada kurban yang hukumnya wajib seperti hewan nazar atau hadyu (dam) bagi jamaah haji tamattu’ dan qirān. Dalam mazhab Syafi’i, untuk jenis kurban wajib ini, pekurban tidak boleh memakan dagingnya sama sekali. Seluruhnya harus disalurkan kepada yang berhak.

Mitos 5: Kurban hanya tradisi tahunan

Fakta: kurban adalah ibadah dengan akar tauhid yang dalam, meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim. Ia bukan sekadar rutinitas, tetapi simbol ketaatan dan keikhlasan.

Kesalahan memahami kurban bisa mengurangi nilai ibadah itu sendiri. Karena itu, penting untuk merujuk kepada sumber yang benar dan penjelasan ulama.

Pada akhirnya, kurban bukan tentang mengikuti kebiasaan masyarakat, tetapi mengikuti tuntunan syariat.

Bedakan antara mitos dan fakta, agar qurban kita tidak hanya sah, tetapi juga bernilai di sisi Allah.

===========

*KH Bachtiar Nasir | Pembina AQL Qurban Care

Sumber: Al-Majmūʿ Syarḥ al-Muhażżab

Foto: dok. AQL

AQL Qurban Care: Kurban Terbaik, Manfaat Terluas | Tunaikan kurban Anda bersama AQL Qurban Care: amanah, tepat sasaran, dan penuh keberkahan. WA: 0857 1873 5254, IG: @aql.qurbancare, www.qurbancare.org.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Mahasiswa Institut STIAMI Sukses Menyelesaikan Program Magang di Jepang

2 Juni 2026 - 22:38 WIB

Mahasiswa Institut STIAMI Sukses Menyelesaikan Program Magang di Jepang

Pengukuhan Gelar dan Sertifikasi Internasional 2026 Resmi Digelar di Purbalingga

30 Mei 2026 - 10:27 WIB

After Kurban: Mempertahankan Semangat Pengorbanan di Luar Bulan Żulḥijjah

28 Mei 2026 - 05:55 WIB

Populer PENDIDIKAN