INAnews.co.id, Jakarta– Wacana pemakzulan Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan sekadar mimpi kosong, namun belum memiliki kondisi yang memadai untuk terwujud. Akademisi dan analis pertahanan Anton Permana menegaskan bahwa dari delapan presiden Indonesia, empat di antaranya pernah dijatuhkan melalui mekanisme serupa, bukti bahwa fenomena ini bukan tanpa preseden.
Mengacu pada riset akademik tentang runtuhnya rezim Soeharto, Anton menyebut empat faktor yang harus hadir bersamaan: pecahnya internal kekuasaan, tekanan kepentingan asing, lahirnya oposisi solid, dan resesi ekonomi parah. “Keempat faktor itu belum terpenuhi secara simultan,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Yang mempersulit posisi pemerintah justru kekalahan dalam perang narasi. Program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, dan Koperasi Merah Putih lebih banyak menghiasi pemberitaan dari sisi skandal dan kegagalannya ketimbang keberhasilannya.
Anton mengingatkan ancaman tersembunyi berupa “pendukung gelap” yang akan menikmati hasil perjuangan tanpa ikut berjuang. Ia menyarankan agar Prabowo diberi kesempatan hingga 2029, seraya menegaskan kritik tetap harus disuarakan keras, baik secara terbuka maupun langsung kepada presiden.






