INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti senior Ikrar Nusa Bhakti mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut warga desa tidak hidup dengan uang dolar. Menurutnya, kenaikan nilai dolar Amerika Serikat tetap berdampak luas terhadap kehidupan rakyat, termasuk masyarakat di pedesaan.
“Banyak bahan pangan yang dikonsumsi warga Indonesia justru bahan bakunya diimpor dari luar negeri,” ujar Ikrar dalam kanal YouTube-nya yang diunggah Jumat (22/5/2026).
Ikrar mencontohkan kacang hijau dan ketan hitam yang digunakan para pedagang bubur umumnya merupakan produk impor, kacang hijau dari Australia dan ketan hitam dari negara lain karena produk lokal dinilai kurang cocok untuk diolah. Kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu pun sebagian besar diimpor dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, ia mengakui tidak semua warga desa terdampak negatif. Pada krisis 1997–1998, petani penghasil komoditas ekspor seperti cengkeh, kopi, vanili, dan rempah-rempah justru meraup keuntungan besar karena nilai tukar rupiah yang melemah. Namun ia mengingatkan, kala itu pun ada upaya dari kalangan penguasa Orde Baru untuk menguasai komoditas tersebut demi kepentingan segelintir pihak.
Kondisi saat ini dinilai jauh lebih memprihatinkan. Ikrar menyoroti lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus meningkat, dengan prediksi gelombang PHK besar-besaran pada Juli mendatang, seiring banyaknya perusahaan domestik maupun asing yang memindahkan usahanya ke negara lain. Para lulusan baru pun kian kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Ikrar juga mempertanyakan keseriusan program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah sebagai pengganti supermarket modern. Ia menyebut program itu tidak realistis, bahkan ada koperasi yang justru kulakan dari supermarket yang ingin digantikannya. Ia juga menyinggung janji bantuan solar bagi nelayan yang belum terwujud, sementara harga solar terus melambung.
“Saya yakin Pak Prabowo sebenarnya dibohongi anak buahnya, atau menutup mata pada kesulitan ekonomi rakyat. Hanya beliau yang tahu,” pungkas Ikrar.






