Menu

Mode Gelap
Prabowo: 2045 Indonesia Jadi Ekonomi Keempat Terbesar Dunia Tiga Tahun Lagi Kita Kuat di Energi, Kata Presiden Tekiro dan ITS Surabaya Kembali Gelar Servis Gratis Dan Pelatihan Otomotif Untuk Masyarakat Surabaya Prabowo Minta Pengusaha Muda Jadi Patriot Ekonomi, Jangan Bawa Kabur Kekayaan Prabowo: 1.000 Kawan Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak Saut Situmorang Sebut Korupsi MBG Merampok Orang Lapar, Desak Purbaya Diperiksa

PENDIDIKAN

The Real Sacrifice: Mengapa Qurban Itu Bukan Soal Daging, tapi Soal Ketaatan?

badge-check


					Foto: ilustrasi (AI) Perbesar

Foto: ilustrasi (AI)

INAnews.co.id, Jakarta– Banyak orang memandang kurban sebatas penyembelihan hewan dan pembagian daging. Padahal, hakikat kurban jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah simbol ketaatan total seorang hamba kepada Allah, bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi ibadah hati.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS Al-Ḥajj [22]: 37).

Dalam tafsir Abdurrahman as-Sa’di dijelaskan bahwa ayat ini menegaskan: tujuan kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Allah tidak membutuhkan daging dan darahnya, karena Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Yang sampai kepada-Nya adalah keikhlasan, niat yang benar, dan ketakwaan dari pelakunya. Oleh karena itu, kurban harus dilandasi niat untuk mencari rida Allah semata, bukan karena riya’, ingin dipuji, atau sekadar mengikuti tradisi.

Penjelasan ini memberikan pesan yang sangat kuat: ibadah tanpa keikhlasan bagaikan kulit tanpa isi, atau jasad tanpa ruh. Secara lahir terlihat ada, tetapi hakikatnya kosong. Begitu pula kurban, ia hanya akan bernilai jika disertai hati yang tunduk dan niat yang lurus.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail `Alaihimas salām menjadi contoh nyata. Ketika diperintahkan untuk menyembelih sesuatu yang paling dicintai, mereka tidak ragu. Bahkan sebelum penyembelihan terjadi, keduanya telah menunjukkan puncak ketaatan. Inilah esensi qurban: kesiapan untuk menempatkan perintah Allah di atas segalanya.

Maka “real sacrifice” bukan terletak pada hewan yang disembelih, tetapi pada apa yang kita lepaskan dalam hati. Bisa jadi itu adalah cinta berlebihan kepada harta, ego, atau kebiasaan yang tidak diridhai Allah. Kurban menjadi latihan untuk menggeser pusat kehidupan: dari diri sendiri menuju Allah.

Lebih dari itu, semangat ini tidak boleh berhenti di hari raya. Nilai keikhlasan dan ketaatan harus terus hidup dalam seluruh ibadah dan aktivitas kita. Karena setiap amal, sekecil apa pun, akan kehilangan nilainya tanpa niat yang benar.

Kurban sejati bukan tentang daging yang dibagikan, tetapi tentang hati yang ditundukkan, ikhlas, taat, dan hanya mengharap wajah Allah semata.

===========

*KH Bachtiar Nasir | Pembina AQL Qurban Care

Sumber: Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān

Foto: dok. AQL

AQL Qurban Care: Kurban Terbaik, Manfaat Terluas | Tunaikan kurban Anda bersama AQL Qurban Care: amanah, tepat sasaran, dan penuh keberkahan. WA: 0857 1873 5254, IG: @aql.qurbancare, www.qurbancare.org.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Mahasiswa Institut STIAMI Sukses Menyelesaikan Program Magang di Jepang

2 Juni 2026 - 22:38 WIB

Mahasiswa Institut STIAMI Sukses Menyelesaikan Program Magang di Jepang

Pengukuhan Gelar dan Sertifikasi Internasional 2026 Resmi Digelar di Purbalingga

30 Mei 2026 - 10:27 WIB

After Kurban: Mempertahankan Semangat Pengorbanan di Luar Bulan Żulḥijjah

28 Mei 2026 - 05:55 WIB

Populer PENDIDIKAN