INAnews.co.id, Jakarta– Selama hampir lima tahun bertugas di Peru (2018–2023), Marina Estella Anwar Bey, Dubes RI untuk Peru dan Bolivia 2018-2023 menyaksikan sendiri betapa labilnya kondisi politik negara Amerika Latin itu. Ia mencatat telah terjadi pergantian presiden sebanyak lima kali, dengan dua belas menteri luar negeri yang silih berganti.
“Saya 5 tahun, lima presiden, dua belas menteri luar negeri. Bingung-bingung enggak bisa hafal,” katanya dalam wawancara di kanal YouTube Newlitics yang tayang Rabu (24/6/2026).
Peru menganut sistem presidensial dengan masa jabatan presiden selama lima tahun. Namun Kongres memiliki kewenangan untuk menjatuhkan presiden yang dianggap tidak cakap memerintah, dan mekanisme ini kerap digunakan demi kepentingan politik.
Salah satu presiden yang dijatuhkan adalah akibat skandal Vacunagate, yakni pemberian vaksin Covid-19 secara diam-diam kepada keluarga presiden, para menteri, dan sejumlah duta besar, padahal sang presiden sebelumnya berjanji di hadapan publik bahwa ia akan menjadi yang terakhir menerima vaksin.
Dalam satu episode pergantian kekuasaan yang unik, sempat terjadi dua presiden dilantik secara bersamaan dalam satu hari. Ketika kekosongan kepemimpinan tak terhindarkan, Ketua Parlemen naik menjadi presiden, namun hanya mampu bertahan selama lima hari.






