INAnews.co.id, Jakarta– Di tengah kritik bahwa kendaraan listrik di Indonesia tidak benar-benar ramah lingkungan karena pasokan listriknya masih bergantung pada batu bara, INDEF menegaskan bahwa emisi kendaraan listrik tetap jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) jika dihitung secara menyeluruh dari hulu ke hilir.
“Kalau kita berbicara BBM, dari sisi hulu sampai hilir mereka mengeluarkan emisi. Kalau EV, mungkin dari sisi hulunya saja yang mengeluarkan emisi, sedangkan dari sisi hilirnya sudah rendah emisi,” jelas Andry Satrio Nugroho, Kepala CITI INDEF, Selasa (2/6/2026).
Andry mengakui kritik soal ketergantungan pada batu bara tetap valid dan perlu ditangani serius. Ia menekankan pentingnya pendekatan well-to-wheel—memastikan rantai energi dari sumber pembangkit hingga roda kendaraan sama-sama bersih. Dekarbonisasi sektor energi dan pembenahan praktik pertambangan disebutnya sebagai pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan paralel dengan elektrifikasi transportasi.
INDEF, melalui unit riset Green Transition Initiative (GTI), kini aktif mengkaji kebijakan transisi hijau yang mencakup sektor energi, industri, transportasi, dan pemanfaatan mineral kritis seperti nikel.






