INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS mencerminkan krisis kepercayaan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia, bukan sekadar tekanan global. Demikian disampaikan analis ekonomi politik Kusfiardi dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad, Sabtu (6/6/2026).
“Uangnya pemerintah ini enggak jelas perginya. Belanjanya gede, kewajibannya gede, penerimaannya kok kecil,” ujar Kusfiardi.
Menurut Kusfiardi, pelemahan rupiah diperparah oleh dua kebijakan sejak 1998: sistem nilai tukar mengambang bebas (free float) dan rezim devisa bebas. Akibatnya, pemerintah maupun Bank Indonesia tidak punya instrumen langsung untuk menahan laju pelemahan mata uang.
Indikasi paling mengkhawatirkan, kata dia, adalah melemahnya rupiah bukan hanya terhadap dolar AS, melainkan terhadap seluruh mata uang asing. Kondisi ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi produktif Indonesia tidak mampu memperkuat cadangan devisa.
Asumsi kurs dalam APBN 2026 dipatok Rp16.000 per dolar, sehingga selisih Rp1.500 dari posisi saat ini berpotensi mengguncang keseimbangan fiskal secara signifikan.






