INAnews.co.id, Jakarta- Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur dua hari lalu, berbeda dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 25 basis poin menjadi 6 persen untuk menahan pelemahan rupiah. Sebagai kompensasi, BI menawarkan fasilitas swap lindung nilai kepada investor asing yang bertransaksi valuta asing, baik untuk investasi di Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun kebutuhan ekspor-impor.
Ekonom senior Ferry Latuhihin menjelaskan skema tersebut dalam podcast yang diunggah di kanal YouTube-nya, Jumat (24/7/2026). Menurutnya, investor asing yang masuk ke Indonesia dengan ongkos pinjaman dolar sekitar 4% dapat membeli SRBI dengan yield 7,6 persen, sembari mengamankan risiko kurs lewat swap yang ditawarkan BI.
“BI menawarkan Anda bisa membeli kembali dolar Anda yang Anda jual kepada saya dengan harga 2,7 persen di atas harga jual Anda ini hari,” kata Ferry menirukan tawaran BI kepada investor, seraya menambahkan bahwa premi tersebut kemudian dipotong insentif 12,5 persen menjadi 2,36 persen.
Dengan skema itu, Ferry menghitung keuntungan bersih investor asing yang masuk lewat SRBI mencapai 1,24% setelah dikurangi biaya pinjaman dolar. “Net yield keuntungan bersih daripada investor asing ini tidak main-main,” ujarnya.
Ferry menilai langkah BI ini ditempuh karena tekanan yang sangat besar terhadap rupiah belakangan ini. “Kalau tidak dilakukan intervensi setiap hari, saya yakin dolar sudah berada di atas Rp20.000,” katanya.






