INAnews.co.id, New Jersey- Panggung megah Stadion MetLife menjadi saksi bisu runtuhnya air mata di atas rumput hijau. Melalui pertempuran kolosal yang menguras emosi dan tetesan keringat terakhir, tim nasional Spanyol πͺπΈ berhasil menundukkan Argentina π¦π· dengan skor tipis 1-0 lewat babak perpanjangan waktu (extra time), sekaligus menasbihkan diri sebagai penguasa baru sepak bola jagat raya.
Hujan Kartu dan Tembok Kokoh Emi Martinez
Sejak peluit pertama dibunyikan, tensi pertandingan sudah membakar atmosfer stadion. La Furia Roja langsung mengambil kendali permainan dengan filosofi umpan-umpan pendek yang sabar, memaksa sang juara bertahan, Argentina, terus tertekan di area pertahanan mereka sendiri.
Pertandingan berjalan sangat keras hingga memicu banjir kartu kuning untuk kubu Albiceleste. Malapetaka bagi Argentina memuncak di menit ke-90+2 ketika gelandang andalan mereka, Enzo Fernandez, menerima kartu kuning kedua setelah melanggar pemain Spanyol. Berjuang dengan 10 pemain, Argentina dipaksa bermain bertahan total demi memaksakan laga berlanjut ke babak extra time.
Jika bukan karena kejeniusan penjaga gawang Emiliano Martinez yang melakukan 10 penyelamatan spektakuler sepanjang laga, gawang Argentina dipastikan sudah bobol lebih awal.
Menit ke-106: Sihir Ferran Torres Membakar New Jersey
Ketika asa adu penalti mulai membayangi benak jutaan pasang mata, momen magis yang dinanti Spanyol akhirnya tiba pada paruh kedua perpanjangan waktu, tepatnya menit ke-106.
Berawal dari akselerasi mematikan Nico Williams di sisi kiri lapangan, ia melepaskan umpan silang mendatar yang sangat presisi ke dalam kotak penalti. Ferran Torres, yang masuk sebagai pemain pengganti, datang bagai kilat menyambar bola dengan sontekan first-time mematikan yang gagal dihalau oleh Emi Martinez. Stadion langsung bergemuruh layaknya gempa bumi! Spanyol memimpin 1-0.
Spanyol sempat mencetak gol kedua kembali lewat kaki Ferran Torres setelah memanfaatkan umpan terobosan Lamine Yamal, namun dianulir oleh VAR karena sang penyerang sudah berdiri dalam posisi offside.
Tangis Pilu Lionel Messi dan Gelombang Merah Spanyol
Tertinggal satu gol dengan sisa waktu yang makin menipis membuat kapten legendaris Argentina, Lionel Messi, mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Pada menit-menit akhir, Messi berturut-turut meneror pertahanan Spanyol lewat skema sepak pojok melengkung yang nyaris masuk ke gawang Unai Simon, serta sebuah tembakan roket jarak jauh yang secara heroik diblokir langsung oleh wajah Mikel Merino hingga terjatuh.
Peluang emas terakhir Argentina lahir dari kaki Giuliano Simeone yang menerima umpan matang dari Leandro Paredes di tengah kotak penalti. Namun sayang, akibat kehilangan keseimbangan, tembakannya melambung jauh di atas mistar gawang.
Peluit panjang akhirnya berbunyi. Tangis haru para pemain Spanyol pecah, berbanding terbalik dengan tatapan kosong nan pilu dari Lionel Messi yang harus merelakan mimpi mempertahankan trofi pupus di penghujung karier internasionalnya.
Dengan kemenangan dramatis 1-0 ini, skuad asuhan Luis de la Fuente resmi membawa pulang trofi Piala Dunia kedua dalam sejarah sepak bola Spanyol, mengulangi memori indah dengan skor identik yang pernah mereka torehkan di Afrika Selatan pada tahun 2010 silam. Viva EspaΓ±a!***






