Menu

Mode Gelap
Aldi’s Hotdog Buka Cabang Ketiga di BSD, Andalkan Odading Jadi Hotdog GAKESLAB Jakarta Hadir dan Berpartisipasi Dalam Seminar Nasional XIII & Healthcare Expo XI ARSSI 2026 Menduga Ada ‘Barter’ Kasus Jampidsus dan Korupsi MBG Pernyataan Hotman Paris soal Izin Presiden Menampar Prabowo Nanik Deyang Mundur dari BGN, Fokus Jalani Pengobatan Jantung Mencurigai Ada Kolusi di Temuan Uang Kasus Febrie

POLITIK

Mengajak Akademisi dan Rektor Bersuara soal Kebijakan Populis

badge-check


					Foto: ilustrasi (AI) Perbesar

Foto: ilustrasi (AI)

INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti kebijakan publik Wahyudi Askar mengajak kalangan akademisi, guru besar, dan rektor di Indonesia untuk lebih berani menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai bermasalah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ajakan itu disampaikan dalam wawancara dengan Bambang Widjajanto yang tayang di kanal YouTube Bambang Widjajanto, Senin (6/7/2026).

Wahyudi menyebut fenomena keheningan publik saat ini sebagai bagian dari teori spiral of silence, di mana masyarakat memilih diam bukan karena setuju, melainkan karena takut atau merasa suaranya tidak akan didengar. “Orang-orang yang diam ini bukan berarti setuju dengan MBG. Tapi di mata pemerintah, semua orang dianggap setuju karena masyarakat diam,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa keheningan itu berisiko berubah menjadi bentuk protes yang tidak konstruktif apabila kondisi ekonomi memburuk dan persoalan korupsi dianggap sudah tidak dapat dimaklumi lagi.

Ia mencontohkan pertemuan antara Presiden dan sekitar 2.600 rektor serta dosen yang menurutnya lebih banyak diisi pidato satu arah dibanding dialog konstruktif. Wahyudi menilai kritik dari kalangan kampus terhadap kebijakan pemerintah belum banyak berdampak, meski menurutnya suara tersebut penting untuk mengembalikan nalar publik.

Wahyudi juga menyinggung fenomena kaum muda terdidik yang memilih pindah kewarganegaraan, dengan menyebut angka sekitar 8.000 orang, mayoritas anak muda, sebagai indikasi hilangnya kepercayaan terhadap sistem di dalam negeri.

Ia mendorong agar perubahan kebijakan tidak ditunda hingga bertahun-tahun mendatang, melainkan dilakukan segera lewat langkah seperti moratorium sementara terhadap program yang bermasalah sambil membenahi tata kelola pengadaannya. “Perubahan itu bukan 10 tahun lagi di 2045. Perubahan itu hari ini, besok pagi,” tegasnya.

Wahyudi menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kritik yang ia dan timnya sampaikan bukan ditujukan kepada individu maupun institusi tertentu, melainkan kepada sistem kebijakan yang dinilai perlu diperbaiki. “Kita enggak nyerang orang, kita enggak nyerang pemerintah. Kita nyerang sistem yang buruk,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Anggaran MBG Jangan Gerus Dana Pendidikan

21 Juli 2026 - 23:59 WIB

Membela Presiden, Menyindir Pengkritik Ekonomi

21 Juli 2026 - 22:16 WIB

Koperasi Merah Putih Diklaim Hemat Ratusan Triliun Rupiah

21 Juli 2026 - 18:56 WIB

Populer POLITIK