Menu

Mode Gelap
Aldi’s Hotdog Buka Cabang Ketiga di BSD, Andalkan Odading Jadi Hotdog GAKESLAB Jakarta Hadir dan Berpartisipasi Dalam Seminar Nasional XIII & Healthcare Expo XI ARSSI 2026 Menduga Ada ‘Barter’ Kasus Jampidsus dan Korupsi MBG Pernyataan Hotman Paris soal Izin Presiden Menampar Prabowo Nanik Deyang Mundur dari BGN, Fokus Jalani Pengobatan Jantung Mencurigai Ada Kolusi di Temuan Uang Kasus Febrie

POLITIK

Peneliti Sebut Program MBG Rampok Nalar Publik Sebelum Uang Negara

badge-check


					Foto: Media Wahyudi Askar/tangkapan layar Perbesar

Foto: Media Wahyudi Askar/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti kebijakan publik Media Wahyudi Askar menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah membuat masyarakat kehilangan daya kritis sebelum akhirnya uang negara benar-benar dikorupsi. Pernyataan itu disampaikan Wahyudi dalam wawancara bersama Bambang Widjajanto yang tayang di kanal YouTube pribadi Bambang, Senin (6/7/2026).

Menurut Wahyudi, publik perlu membedakan makna “memberi makan rakyat” oleh presiden dengan tindakan seorang dermawan memberi makan tetangganya. “Kalau dermawan memberi makan tetangganya itu duit dia, uang dia sendiri. Tapi presiden memberikan makan rakyat itu bukan uang presiden, ini uang rakyat,” kata Wahyudi.

Wahyudi, yang merupakan periset di lembaga Celios dan pernah menjadi konsultan di lembaga internasional termasuk Oxfam serta pengajar di UGM, mengatakan riset timnya soal MBG sudah dimulai sejak Juni 2024, tak lama setelah program itu diluncurkan pada Februari 2024. Setelah dua tahun berjalan, ia menilai kualitas implementasi program itu tidak membaik, bahkan cenderung memburuk.

Ia menyoroti adanya dugaan muatan politik di balik program tersebut, termasuk kaitannya dengan Pemilu 2029. Wahyudi mengklaim timnya bahkan sempat menghitung potensi perolehan suara (voters) dari kebijakan MBG maupun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dalam kajian akademik mereka.

“Sebelum merampok uang negara, rampok dulu rasionalitas masyarakat. Dan menurut saya mereka sudah berhasil melakukannya. Pikiran masyarakat itu sudah dirampok,” ujar Wahyudi.

Wahyudi juga menyinggung kasus keracunan yang menimpa penerima manfaat MBG, meski hingga kini belum ada korban jiwa yang tercatat secara definitif akibat program tersebut. Ia membandingkannya dengan KDMP yang menurutnya telah menelan lima korban jiwa.

Ia menyebut hasil riset lembaganya sudah diserahkan ke sejumlah lembaga negara, termasuk Bappenas, namun belum membuahkan perubahan kebijakan. “Secara riset itu dibaca oleh banyak orang, ribuan orang yang share. Tapi secara kebijakan, riset kami itu gagal,” kata Wahyudi.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Anggaran MBG Jangan Gerus Dana Pendidikan

21 Juli 2026 - 23:59 WIB

Membela Presiden, Menyindir Pengkritik Ekonomi

21 Juli 2026 - 22:16 WIB

Koperasi Merah Putih Diklaim Hemat Ratusan Triliun Rupiah

21 Juli 2026 - 18:56 WIB

Populer POLITIK