INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Sia Nawir, mengingatkan bahwa status investment grade yang masih disandang Indonesia tidak otomatis mencerminkan kepercayaan investor yang kuat maupun kondisi ekonomi yang nyaman. Ia menyampaikan hal itu dalam diskusi publik INDEF bertajuk “Rating Aman, Ekonomi Nyaman?” di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Sia menjelaskan, tiga lembaga pemeringkat internasional masih menempatkan Indonesia dalam kategori layak investasi. S&P memberi peringkat BBB dengan outlook stabil, Moody’s memberi Baa2 dengan outlook negatif, dan Fitch memberi BBB dengan outlook negatif.
“Dua dari tiga lembaga memberikan outlook negatif yang artinya bukan otomatis downgrade, tapi outlook negatif ini arahnya adalah risiko dalam satu sampai dua tahun ke depan itu dua lembaga ini menilai cenderung lebih memburuk,” kata Sia.
Menurut Sia, penilaian lembaga pemeringkat bertumpu pada enam aspek: kekuatan ekonomi, kapasitas fiskal, profil utang, ketahanan eksternal, kredibilitas moneter dan kelembagaan, serta risiko kontinjensi. Ia menyoroti defisit neraca perdagangan Indonesia yang tercatat 9,15 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026, serta turunnya peringkat daya saing yang dirilis Institute for Management Development (IMD) ke posisi 49 dari 70 negara yang disurvei.
Ia menegaskan pentingnya membedakan antara creditworthiness, yakni kemampuan negara membayar utang yang dinilai lembaga pemeringkat, dengan investability, yakni kemudahan akses pasar bagi investor. “Negara dapat layak secara kredit tapi belum tentu memperoleh alokasi besar apabila kursnya volatil, biaya hedging-nya besar, likuiditasnya rendah, dan regulasi sulit diprediksi,” ujarnya.
Di penghujung paparannya, Sia menegaskan bahwa kepercayaan investor tidak dapat diperoleh secara instan. “Rating bisa dijaga, investment grade bisa disandang, kepercayaan tidak bisa sekadar diundang,” katanya. Ia menambahkan, kepercayaan itu “dibangun melalui fundamental yang terjaga, kebijakan yang diprediksi, informasi yang konsisten serta implementasi yang dapat dibuktikan pada pasar.”






