Menu

Mode Gelap
Prabowo: Koruptor Dana MBG Tidak Pantas Dihormati Danantara Sumber Daya Indonesia Kelola Ekspor Rp14 Miliar Dolar Prabowo Bongkar 1.074 BUMN, Target Tinggal 300 Akhir 2026 RI Capai Swasembada Pangan Lebih Cepat dari Target Gempa NTT: Dua Tewas, Peringatan Dini Tsunami Sempat Diberlakukan Prabowo Klaim 121 Kebijakan Transformatif dalam 21 Bulan

EKONOMI

Rating Investasi Aman, Bukan Berarti Ekonomi Sudah Nyaman

badge-check


					Foto: Sia Nawir/tangkapan layar Perbesar

Foto: Sia Nawir/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Sia Nawir, mengingatkan bahwa status investment grade yang masih disandang Indonesia tidak otomatis mencerminkan kepercayaan investor yang kuat maupun kondisi ekonomi yang nyaman. Ia menyampaikan hal itu dalam diskusi publik INDEF bertajuk “Rating Aman, Ekonomi Nyaman?” di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Sia menjelaskan, tiga lembaga pemeringkat internasional masih menempatkan Indonesia dalam kategori layak investasi. S&P memberi peringkat BBB dengan outlook stabil, Moody’s memberi Baa2 dengan outlook negatif, dan Fitch memberi BBB dengan outlook negatif.

“Dua dari tiga lembaga memberikan outlook negatif yang artinya bukan otomatis downgrade, tapi outlook negatif ini arahnya adalah risiko dalam satu sampai dua tahun ke depan itu dua lembaga ini menilai cenderung lebih memburuk,” kata Sia.

Menurut Sia, penilaian lembaga pemeringkat bertumpu pada enam aspek: kekuatan ekonomi, kapasitas fiskal, profil utang, ketahanan eksternal, kredibilitas moneter dan kelembagaan, serta risiko kontinjensi. Ia menyoroti defisit neraca perdagangan Indonesia yang tercatat 9,15 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026, serta turunnya peringkat daya saing yang dirilis Institute for Management Development (IMD) ke posisi 49 dari 70 negara yang disurvei.

Ia menegaskan pentingnya membedakan antara creditworthiness, yakni kemampuan negara membayar utang yang dinilai lembaga pemeringkat, dengan investability, yakni kemudahan akses pasar bagi investor. “Negara dapat layak secara kredit tapi belum tentu memperoleh alokasi besar apabila kursnya volatil, biaya hedging-nya besar, likuiditasnya rendah, dan regulasi sulit diprediksi,” ujarnya.

Di penghujung paparannya, Sia menegaskan bahwa kepercayaan investor tidak dapat diperoleh secara instan. “Rating bisa dijaga, investment grade bisa disandang, kepercayaan tidak bisa sekadar diundang,” katanya. Ia menambahkan, kepercayaan itu “dibangun melalui fundamental yang terjaga, kebijakan yang diprediksi, informasi yang konsisten serta implementasi yang dapat dibuktikan pada pasar.”

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

​Kredit Macet BDL Lamongan Tembus Rp386 Miliar, CBA Desak KPK Periksa Dirut Nur Rahmawati

14 Agustus 2026 - 15:29 WIB

Turunkan Pajak

11 Agustus 2026 - 18:18 WIB

PFII Bisa Ubah Bank Syariah RI Jadi Institusi Keuangan Islam Global

11 Agustus 2026 - 14:40 WIB

Populer EKONOMI