INAnews.co.id, Jakarta- Ekonom senior Ferry Latuhihin memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan kesulitan menahan nilai tukar dolar Amerika Serikat di bawah level Rp18.000, di tengah tekanan internal dan eksternal yang menurutnya sangat besar terhadap rupiah saat ini.
Dalam podcast yang diunggah Jumat (24/7/2026), Ferry menyoroti volatilitas kurs yang menurutnya mencerminkan intervensi intensif BI di pasar. “Naik 50, 60 bahkan 100 poin, turun lagi 50, 60, 100 poin. Tidak mungkin market bekerja seperti itu,” katanya.
Ferry menyebut dua faktor eksternal utama yang menekan rupiah: lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus 100 dolar AS per barel untuk jenis Brent, serta yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang naik ke atas 4,7 persen. “Ini kenaikan yang hitungan harinya sangat luar biasa, dari level 70 menjadi 100 lagi sekarang,” ujarnya soal harga minyak.
Ia menambahkan, tingginya harga minyak berisiko mendorong inflasi di Amerika Serikat dan membuat bank sentral AS semakin agresif menaikkan suku bunga acuannya. “Saya tidak yakin BI akan berhasil menjaga dolar di bawah 18.000,” kata Ferry.
Ia menyimpulkan langkah BI mempertahankan level psikologis tersebut hanya bersifat sementara. “Ini sih hara-kiri, cuma menunda kematian rupiah ke tahun depan, bukan tahun ini atau hari ini,” ujarnya, menyebut kebijakan BI saat ini sudah “kalap”.






