Mendikdasmen: Demokrasi Bukan Sekadar Pemilu Semata
- account_circle Robi
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Abdul Mu'ti/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh dimaknai sebatas proses meraih kekuasaan atau sekadar pemilihan umum. Pernyataan itu disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan keynote speech sekaligus membuka secara resmi Seminar Nasional Pendidikan Demokrasi yang digelar Perludem, Jumat (7/8/2026).
“Selama ini demokrasi dimaknai sebatas gaining power atau changing power. Demokrasi dimaknai sebatas election atau pemilu saja,” kata Abdul Mu’ti di hadapan ratusan peserta seminar, termasuk siswa dan mahasiswa alumni Akademi Demokrasi.
Menurutnya, demokrasi memiliki empat dimensi penting yang harus tumbuh bersamaan, yakni landasan filosofis (philosophy of democracy), nilai-nilai demokrasi (the value of democracy) berupa kesetaraan, meritokrasi, dan kemajemukan, sistem demokrasi yang sesuai konteks masing-masing negara, serta budaya demokrasi.
“Ada sistemnya demokrasi, tapi praktiknya tidak demokratis,” ujarnya, menyoroti pentingnya budaya demokrasi berupa keterbukaan, penerimaan terhadap perbedaan, dan fairness atau sikap kesatria, siap menang, siap kalah.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian pihak yang hanya siap menang, namun sulit menerima kekalahan. “Kalau menang itu dia umuk, sombong… Kalau kalah dia ngamuk, mencari-cari alasan,” katanya, seraya menegaskan bahwa demokrasi seharusnya tidak mengenal prinsip the winner takes all.
“Saya berpendapat dalam sistem demokrasi itu tidak boleh ada apa yang sering disebut orang dengan the winners take all. Begitu menang, semua diambil. Kalau itu yang terjadi, bukan demokrasi menurut saya, tetapi etatisme politik,” tegasnya.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi harus disertai tanggung jawab. “Setiap warga negara berhak menyampaikan pendapat secara lisan maupun tulisan, ada freedom of expression, tetapi semuanya harus ada responsibility atau pertanggungjawaban dari yang dia ucapkan itu,” ujarnya.
Ia menutup pidatonya dengan menitipkan harapan kepada generasi muda yang hadir. “Kalian semua tentu bisa menjadi the champion of democracy sejak dini, sejak muda, dan mudah-mudahan kalian juga menjadi pionir mengembangkan demokrasi bagi teman-teman sebaya Anda,” katanya, sebelum secara resmi membuka seminar tersebut.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar