Pensi 2026 SMA Negeri 26 Tebet Jakarta Kelas XII-2 Akan Menampilkan Drama Teater “Les Miserants”
- account_circle S Edy
- calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta – Pensi sekolah adalah sebuah pentas seni sekolah, yaitu acara pertunjukan yang menampilkan berbagai ekspresi kreatif dan bakat seni dari para siswa. Acara ini merupakan tradisi tahunan di berbagai sekolah di Indonesia dan biasanya diselenggarakan setelah masa ujian selesai atau menjelang pembagian rapor.
Ajang pensi merupakan sebuah wadah kreativitas sebagai tempat menyalurkan minat dan keahlian siswa di bidang non-akademik yang bertujuan untuk melatih mental dan meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk tampil di depan umum.
Pensi adalah sebuah eksistensi Sekolah untuk menunjukkan identitas dan prestasi sekolah kepada masyarakat luas
Pada tahun 2026 ini SMA Negeri 26 Tebet Jakarta Selatan kembali akan menyelenggarakan pensi yang di ikuti oleh siswa SMA kelas XII pada hari minggu 23 Agustus 2026 di gedung teater Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Di gedung teater Taman Ismail Marzuki siswa siswa kelas XII-2 SMA Negeri 26 Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan, akan menghadirkan pertunjukan drama teater bertajuk “Les Miserants”.
Pementasan ini mengangkat tema penebusan dosa, ketidakadilan sosial, perjuangan kelas, serta perlawanan terhadap sistem kekuasaan yang menindas. Berlatar Batavia pada abad ke-19, kisah bermula pada tahun 1815 dan mengikuti perjalanan Johan Vander Wijaya, seorang mantan pendiri yang berusaha meninggalkan masa lalunya untuk membangun kehidupan baru.
Johan sebelumnya dikenal sebagai Tahanan 58404 yang menjalani hukuman kerja paksa selama 19 tahun hanya karena mencuri segenggam beras. Setelah bebas, ia mengganti identitasnya menjadi Cornelius hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi Walikota Batavia.
Alih-alih menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, Cornelius justru memanfaatkannya untuk melindungi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Namun, perjalanan tersebut tidak mudah. Johan terus diburu Frederik, seorang penegak hukum sekaligus Jenderal Polisi kolonial yang digambarkan kaku dan tidak mengenal kompromi. Konflik semakin memanas ketika Frederik melakukan kudeta dan mengangkat dirinya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Di tengah konflik kekuasaan tersebut hadir Helena, seorang janda miskin yang kehilangan suaminya akibat kerja rodi. Demi memenuhi kebutuhan anaknya, Helena berjuang di tengah tekanan kemiskinan. Namun, ia kemudian menjadi korban kekerasan kekuasaan setelah mencuri beras.
Putri Helena, Eleanor, juga memiliki peran penting dalam cerita. Setelah mengalami eksploitasi oleh keluarga Delacroix, Eleanor disimpan dan diadopsi Cornelius. Ketika dewasa, ia bergabung dalam perjuangan rakyat bersama Aditya Wiranegara, seorang pemuda revolusioner yang memimpin gerakan melawan sistem kolonial Hindia Belanda.
Pementasan turut menghadirkan Pauline van der Capellen, putri sulung Gubernur Jenderal Godert van der Capellen, yang menawarkan posisi walikota kepada Cornelius.
Sementara itu, Gustaf dan Madame Delacroix digambarkan sebagai pasangan pemilik kedai yang serakah dan mengeksploitasi Eleanor. Kedai mereka juga menjadi tempat penyelundupan candu.
Melalui karakter Frederik, “Les Miserants” menggambarkan ideologi kolonial yang menempatkan hukum sebagai aturan mutlak. Sebaliknya, Aditya membawa gagasan bahwa hukum yang tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan dapat berubah menjadi instrumen yang mendasarinya.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti cerita, yakni kritik terhadap sistem yang hanya menghukum seseorang tanpa melihat akar permasalahan seperti kemiskinan dan ketimpangan sosial.
Pementasan juga menekankan pentingnya solidaritas, keberanian, serta perlawanan masyarakat terhadap ketidakadilan. Simbol pin burung mockingjay digunakan sebagai representasi keberanian dan semangat rakyat dalam menghadapi sistem yang tiran.
Sejumlah siswa dipercaya memerankan tokoh-tokoh utama. Muhammad Zian Kamil berperan sebagai Johan, Andrea Melandri sebagai Frederik, Alvira Zahra Arifin sebagai Helena, Kendra Ailsa Nandapratista sebagai Eleanor, Abed Nego Gilbertian sebagai Aditya Wiranegara, serta Kirana Putrining Ramadhan sebagai Pauline van der Capellen.
Sementara itu, karakter Gustaf dan Madame Delacroix masing-masing diperankan Muhammad Ammar Syafiq dan Nadilla Kurniawati.
Pementasan “Les Miserants” disutradarai oleh Rayendra Wirabagja S., dengan Keyaani Adilla Widyanto sebagai asisten sutradara. Naskah ditulis Radhika Naufal Aulya bersama Fahmi Gumarang sebagai co-writer.
Melalui panggung teater ini, siswa kelas XII-2 SMA Negeri 26 Jakarta tidak sekedar menghadirkan hiburan dalam kegiatan pentas seni. Mereka juga mencoba menyampaikan refleksi mengenai hubungan antara hukum, kekuasaan, kemiskinan, dan kemanusiaan.
Kini, aksi para siswa tersebut tinggal menunggu panggung pentas seni. “Les Miserants” diharapkan tidak hanya menghibur penonton, tetapi juga meninggalkan pertanyaan penting: ketika hukum kehilangan sisi kemanusiaannya, apakah ia masih menjadi keadilan?
Jadi, mari kita tunggu aksi dari pertunjukan seni (pensi) siswa siswa kelas XII-2 dari SMA Negeri 26 Tebet Jakarta di ajang pensi 2026 nanti.






- Penulis: S Edy

Saat ini belum ada komentar