Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2026 Tidak Diikuti dengan Kualitas
- account_circle Robi
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: materi Eko Listiyanto/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada triwulan II 2026 tidak diikuti dengan kualitas yang memadai. Menurutnya, meski angka pertumbuhan lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu, kondisi di baliknya justru lebih rapuh.
“Secara angka lebih tinggi, tapi secara kualitas itu menurut saya ada hal-hal yang memang harus menjadi konsen pemerintah dan ini cukup mencemaskan,” kata Eko dalam diskusi publik INDEF bertajuk “Di Balik Pertumbuhan 5,29 persen: Kuat di Angka, Rapuh di Fondasi”, Kamis (6/8/2026).
Eko menyoroti bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah pada triwulan II sangat bergantung pada stimulus fiskal. Ia mencatat konsumsi pemerintah tumbuh hingga 15,97 persen secara tahunan, jauh berbeda dari periode yang sama tahun lalu yang justru minus 0,32 persen. Sebaliknya, konsumsi rumah tangga melambat dari 5,52 persen di triwulan I menjadi 5,06 persen di triwulan II.
“Kalau seandainya intervensi fiskal itu kita hilangkan, maka sebetulnya yang terjadi daya beli murni masyarakat itu sedang tertekan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti hilangnya bantalan dari sektor eksternal. Ekspor pada triwulan II 2026 hanya tumbuh 4 persen, sementara impor tumbuh 8,82 persen, sehingga net ekspor menggerus pertumbuhan ekonomi sebesar 0,78 persen. Kondisi ini berbeda jauh dibanding triwulan II 2025, saat ekspor masih tumbuh double digit dan net ekspor tidak terlalu membebani pertumbuhan.
“Ini gambaran betapa kita sudah mulai kehilangan kompetitiveness di global, terutama dari hasil jualan ekspor kita,” kata Eko.
Anomali lain yang disorot Eko adalah sektor perdagangan yang tumbuh tinggi mencapai 6,39 persen, namun justru diikuti penurunan penyerapan tenaga kerja hingga 128 ribu orang. “Sektor perdagangan itu tumbuh, bahkan tinggi, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi… tetapi dari sisi tenaga kerja itu justru malah mengalami penurunan,” ujarnya, seraya mempertanyakan apakah pergeseran ke perdagangan daring menjadi penyebabnya.
Dari sisi kemiskinan, Eko mencatat bahwa meski angka kemiskinan nasional turun menjadi 7,22 juta jiwa, kedalaman dan keparahan kemiskinan di perdesaan justru memburuk. Ketimpangan turut melebar, tecermin dari rasio gini yang naik dari 0,363 menjadi 0,368.
Sebagai penutup, Eko mengusulkan tiga langkah kebijakan: penguatan daya beli organik melalui penciptaan lapangan kerja formal, percepatan reskilling dan upskilling pekerja sektor perdagangan agar tidak tergerus digitalisasi, serta perubahan pendekatan bantuan sosial di desa dari sekadar bantuan tunai menjadi intervensi berorientasi peningkatan pendapatan jangka panjang.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar