Sekolah Garuda Telan Rp3 Triliun, Dosen dan Guru Protes Anggaran Dipangkas
- account_circle Robi
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: ilustrasi (AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Sejumlah narasumber dalam diskusi tersebut mengkritisi alokasi anggaran besar untuk proyek sekolah unggulan baru pemerintah, seperti Sekolah Garuda dan program Unggulan Riset Indonesia (URI), yang mereka nilai tidak sebanding dengan kesejahteraan tenaga pendidik yang sudah ada.
Satriwan Salim mengungkap keresahannya soal dana sekolah Garuda yang bersumber dari pos anggaran Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek)—kementerian yang sama yang menaungi ribuan dosen berpenghasilan rendah.
“Sekolah Garuda 3 triliun. Kami enggak setuju karena duit kami diambil,” ujar Anggun Gunawan menimpali, merujuk pada pemotongan anggaran yang semestinya bisa dialokasikan untuk tunjangan kinerja dosen, di kanal YouTube-nya Mardani Ali Sera yang diunggah Jumat (21/8/2026).
Anggun bahkan mempertanyakan keberlanjutan proyek-proyek sekolah unggulan tersebut jika terjadi pergantian rezim pemerintahan. “Jangan-jangan sekolah Garuda itu hanya menambah anak-anak muda Indonesia yang merasa pesimis dengan negara ini,” katanya, membandingkannya dengan nasib sejumlah alumni beasiswa era Presiden BJ Habibie yang sempat memilih tak kembali ke Indonesia.
Satriwan menambahkan, ketidakjelasan keberlanjutan program menjadi persoalan struktural yang lebih besar dari sekadar pergantian pemimpin. “Tantangan paling besar itu bukan siapa pemimpinnya, tapi terjadinya keterputusan atau ketidakberlanjutan program,” ujarnya, menyebut fenomena itu sebagai pola “maju-mundur” dalam tata kelola pendidikan nasional, termasuk pergantian kurikulum yang menurutnya terlalu sering terjadi.
Anggota DPR Mardani Ali Sera mengakui adanya alokasi anggaran fantastis untuk sekolah baru tersebut, namun menekankan pentingnya niat baik disertai cara yang tepat. “Niat baik tetap harus dengan cara yang baik. SD Inpres sudah terbukti, bagaimana kalau kita konsentrasi kepada sekolah yang sudah ada, kita orkestrasi dengan baik,” katanya.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar