SMA 26 Jakarta Sadur Les Misérables di Pentas Persen
- account_circle Robi
- calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– SMA Negeri 26 Jakarta menggelar Persen atau Perayaan Kesenian, sebuah acara tahunan yang menampilkan enam pementasan drama dari kelas 12-1 hingga 12-6, Ahad (23/8/2026), di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Tahun ini, seluruh kelas mengusung tema besar yang sama, yakni drama saduran dari karya-karya dramawan dunia yang diadaptasi ke dalam konteks Indonesia.
Salah satu yang menyita perhatian adalah pementasan kelas 12-2 yang mengangkat drama Les Misérables karya Victor Hugo. Karya klasik asal Prancis ini disadur dan ditulis ulang menjadi kisah baru berlatar Batavia pada abad ke-19, lengkap dengan nuansa kisah nasional dan tradisional Indonesia.
Kisah Perjuangan di Balik Jeruji Kolonial
Sutradara drama, Rayendra Wirabagja S, menjelaskan bahwa pementasan ini mengangkat kisah tentang perjuangan seorang mantan tahanan bernama Johan, yang kemudian berganti nama menjadi Cornelius, dalam menegakkan keadilan bagi dirinya sendiri.
“Les Miserants sendiri bakal mengisahkan tentang Frederick dan juga Cornelius atau juga Johan yang pada awalnya berjuang untuk bagaimana pada akhirnya dia bisa menegakkan keadilan untuk dirinya sendiri. Karena selama 19 tahun dia dikungkung atau juga dikurung dalam penjara hanya karena dia mencuri segenggam beras,” ujar Rayendra kepada awak media.
Ia menambahkan bahwa inti cerita drama ini terletak pada perjalanan sang tokoh utama untuk melepaskan diri dari masa lalunya yang kelam. “Dan pada akhirnya bagaimana dia bisa melepaskan dirinya akan menjadi sebuah pernyataan dan juga sebuah kisah utama yang akan dibawakan pada drama ini,” jelasnya.
Melalui pementasan ini, Rayendra berharap penonton dapat menangkap pesan tentang pentingnya keadilan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. “Kami menekankan bahwa keadilan dan juga peran sosial bagi masyarakat itu sangat penting. Dan untuk sekolah adalah bagaimana kita bisa mengapresiasi dan juga menilai nilai-nilai intrinsic dari seni itu sendiri yang seluas-luasnya dan juga detail-detailnya,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa persiapan pementasan ini memakan waktu yang tidak singkat. “Untuk persiapannya sendiri kita udah selama 7-8 bulanan. Kita mulai dari sekitaran bulan Desember sampai sekarang ke bulan Agustus. Tapi persiapannya itu terus diakumulasikan sampai 7-8 bulanan,” kata Rayendra.
Tokoh-Tokoh dalam Drama Les Misérables Versi Batavia
Drama ini menghadirkan sejumlah karakter penting dengan latar cerita yang berpusat pada tema penebusan dosa, keadilan sosial, dan perjuangan kelas di Batavia pada abad ke-19, bermula pada tahun 1815:
- Johan/Cornelius (diperankan Muhammad Zian Kamil)-tokoh protagonis utama, mantan tahanan bernomor 58404 yang dihukum kerja paksa 19 tahun karena mencuri segenggam beras. Ia kemudian berganti nama menjadi Cornelius dan menjabat Wali Kota Batavia untuk melindungi rakyat.
- Frederik (Andrea Melandri)-antagonis utama, Jenderal Polisi kolonial yang kaku dan kejam, yang akhirnya mengangkat dirinya sendiri menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda setelah melakukan kudeta.
- Helena/Jelena (Alvira Zahra Arifin)-ibu miskin dan janda yang menolong Johan, namun ditembak mati oleh Frederik karena dituduh mencuri beras demi anaknya.
- Eleanor (Kendra Ailsa Nandapratista)-putri Helena yang diselamatkan dan diadopsi oleh Cornelius, kelak memimpin revolusi rakyat bersama Aditya.
- Aditya Wiranegara (Abed Nego Gilbertian)-pemuda revolusioner yang memimpin pergerakan rakyat melawan sistem kolonial Hindia Belanda.
- Pauline van der Capellen (Kirana Putrining Ramadhan)-putri sulung Gubernur Jenderal Godert van der Capellen, sosok elit kolonial yang menawarkan posisi walikota kepada Cornelius.
- Gustaf & Madame Delacroix (Muhammad Ammar Syafiq dan Nadilla Kurniawati)-pasangan pemilik kedai yang mengeksploitasi Eleanor dan menjadikan kedainya sebagai gudang penyelundupan candu.
Cerita ini turut menyisipkan kritik sosial melalui dua prinsip yang berlawanan. Ideologi kolonial diwakili oleh Frederik yang berpegang pada prinsip bahwa hukum adalah garis lurus tanpa ruang bagi alasan kemanusiaan. Sebaliknya, tokoh Aditya menyuarakan kritik bahwa hukum tanpa kemanusiaan hanya menjadi alat penindasan, sekaligus menegaskan bahwa solidaritas dan keberanian rakyat, yang disimbolkan lewat pin burung mockingjay, mampu meruntuhkan sistem yang tiran.
Pementasan ini digarap oleh tim kreatif yang terdiri dari Rayendra Wirabagja S. sebagai sutradara, Keyaani Adilla Widyanto sebagai asisten sutradara, serta Radhika Naufal Aulya dan Fahmi Gumarang sebagai penulis naskah.
Dukungan Orang Tua untuk Pengembangan Bakat Siswa
Antusiasme terhadap acara ini juga datang dari kalangan orang tua murid. Mukhtar Hamdan, salah satu perwakilan orang tua murid SMA 26 Jakarta yang anaknya turut tampil di pementasan, mengaku bangga dengan kreativitas para siswa.
“Kebetulan teater ini adalah bakat dari anak muda ya, terutama SMA 26. Anak-anaknya kreatifitasnya cukup bagus. Dan saya mendukung dan untuk mengembangkan anak-anak muda pendidikannya supaya lebih maju,” ungkap Mukhtar.
Ia menilai perkembangan SMA 26 Jakarta cukup baik dan berharap hal itu terus ditingkatkan ke depannya. “SMA 26 kayaknya sih perkembangan cukup bagus ya. Untuk selanjutnya, ke depannya kalau bisa ditingkatkan lagi,” katanya.
Mukhtar juga menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung sekolah anaknya. “Insyaallah, mudah-mudahan kalau saya masih sehat, banyak rezekinya saya dukung dulu,” ujarnya.
Selain berbakat di bidang seni, ia menyebut putranya juga memiliki minat di bidang olahraga dan bisnis. “Ya, dia ada bakat seni dan dia sepak bola. Anak saya memang dia pemain sepak bola juga. Cukup bagus, terutama dia kayaknya hobi dia bola, terus seni, sama bisnis. Makanya saya kembangkan di bisnis, jadi ya nggak mau orang tua dukung semaksimum mungkin,” tuturnya.



- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar