INAnews.co.id, Jakarta– Hasil simulasi model Overlapping Generation Indonesia menunjukkan fenomena unik: program MBG mendorong konsumsi rumah tangga di hampir semua kelompok pendapatan, namun menyebabkan penurunan sementara pada suplai tenaga kerja dan upah riil di fase awal.
Muhammad Rizal Taufikurrahman, Kepala Center Makroekonomi dan Keuangan INDEF, menjelaskan konsumsi agregat meningkat hingga sekitar 1,5 persen dengan kenaikan terbesar pada kelompok menengah dan kaya (50-99 persentil).
“Yang menarik, konsumsi paling besar ada di kelompok top 1 persen sangat kaya. Ini mengindikasikan efek tidak langsung antar generasi dalam konteks keseimbangan ekonomi, seperti peningkatan pendapatan secara permanen,” papar Rizal dalam diskusi INDEF, Rabu (8/1/2026).
Untuk kelompok miskin, meski konsumsi naik namun relatif kecil, mencerminkan manfaat lebih terinternalisasi dalam bentuk perbaikan gizi anak, bukan ekspansi konsumsi langsung.
Dari sisi pasar tenaga kerja, terjadi penurunan suplai tenaga kerja di semua kelompok pendapatan. “Ini cerminan income effect dimana peningkatan kesejahteraan memungkinkan rumah tangga mengurangi jam kerja tanpa menurunkan utilitas,” jelas Rizal.
Upah riil sempat turun tipis di awal sebagai bagian penyesuaian pasar tenaga kerja, namun kemudian naik secara stabil dan persisten setelah kapital dan produktivitas meningkat.
“Penurunan upah awal adalah bagian dari adjustment. Setelah produktivitas meningkat, upah riil akan naik secara permanen. Ini bukan kenaikan upah artifisial tapi berbasis produktivitas,” tambah Prof. Firmansyah dari Undip.
Rizal menekankan MBG perlu dipersempit targetnya dan diintegrasikan dengan kebijakan pasar kerja agar return fiskalnya optimal dan dampak produktivitas benar-benar tertranslasi ke peningkatan kesejahteraan jangka panjang.






