Menu

Mode Gelap
OTT Pajak Ungkap Modus Lama: Tawar-menawar SPHP hingga Restitusi Fiktif Momentum Emas Mereformasi Subsidi Energi Indonesia di Tengah Turunnya Harga Minyak CBA Minta KPK dan Kejagung Turun Tangan atas Dugaan Skandal Geomembrane PHR Riau Empat Menteri Agama Tersandung Kasus Haji: Ada Apa di Kemenag? Serangan ke Venezuela Demi Minyak dan Mineral Strategis Pelita Air Service Mengalami Kerugian USD 20 Juta, CBA Desak Pertamina Pecat Manajemen

EKONOMI

Ketegangan AS-Venezuela Ancam Stabilitas Pasar Minyak Global, Indonesia Berpotensi Terpengaruh

badge-check


					Foto: Abra Talatov/tangkapan layar Perbesar

Foto: Abra Talatov/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela di awal 2026 menciptakan ketidakpastian baru dalam pasar energi global, meskipun harga minyak masih relatif stabil. Aksi yang menargetkan Presiden Nicolas Maduro ini mengungkap motif ganda: geopolitik dan kontrol sumber daya alam.

Abra Talattov, Kepala Center Food Energy and Sustainable Development INDEF, mengungkapkan bahwa penangkapan Maduro yang dilakukan pasukan AS di Caracas bukan sekadar soal pemberantasan narkotika. “Secara terang-terangan Trump menunjukkan latar belakang aslinya bahwa pemerintah Trump punya intensi kuat untuk mengelola atau mengambil alih sumber daya alam Venezuela, khususnya migas dan mineral rare earth,” ujar Abra dalam diskusi di kanal YouTube INDEF, Selasa (13/1/2026).

Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 303 miliar barel atau 20% dari total cadangan dunia, melampaui Arab Saudi. Namun produksi aktualnya hanya kurang dari 1 juta barel per hari, jauh dari potensi maksimal.

Yang menarik, serangan AS dilakukan sehari setelah pertemuan Maduro dengan utusan tinggi China dari Xi Jinping. “Ini memberikan pesan sinyal kepada China bahwa Amerika tidak ingin negara-negara di kawasan benua Amerika memiliki relasi kuat dengan China,” jelas Abra.

Berbeda dengan perang Rusia-Ukraina yang langsung menaikkan harga minyak di atas 100 dolar per barel, harga minyak kini justru stabil di kisaran 56-60 dolar per barel. Bahkan ada ekspektasi penurunan karena Trump berencana meningkatkan produksi Venezuela hingga 5 juta barel per hari.

Bagi Indonesia sebagai net oil importer, penurunan harga minyak menguntungkan secara fiskal. Setiap penurunan 1 dolar per barel menghemat belanja subsidi hingga 10,6 triliun rupiah, meski PNBP Migas turun 1,6 triliun. “Secara net kita surplus. Momentum ini harusnya dimanfaatkan pemerintah untuk melakukan reformasi subsidi energi,” kata Abra.

Namun tantangan muncul dari sisi investasi hulu migas. Harga minyak rendah menjadi disinsentif bagi investor, padahal Indonesia menargetkan peningkatan lifting migas hingga 1 juta barel dari posisi saat ini sekitar 600.000 barel.

OPEC telah mendiskusikan pengurangan produksi untuk menahan harga, namun rencana AS meningkatkan produksi Venezuela berpotensi menggagalkan strategi tersebut.

Abra memproyeksikan harga minyak bisa turun ke level 50 dolar per barel atau lebih rendah jika tidak ada eskalasi baru. Sebaliknya, jika terjadi perluasan konflik di Laut China Selatan, Taiwan, atau Timur Tengah, harga bisa kembali melonjak di atas 70 dolar per barel.

“Sangat tergantung skenarionya, apakah akan cenderung stabil atau akan ada eskalasi lebih besar di kawasan lain,” pungkas Abra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

INDEF: Tata Kelola Jadi Kunci Suksesnya MBG dan Danantara

12 Januari 2026 - 16:44 WIB

Danantara Proyeksi Dongkrak PDB 3 Persen di Awal

12 Januari 2026 - 14:38 WIB

Kontrak Sewa Kapal PLN Energi Primer Capai Rp16 Triliun, CBA : Nilainya Triliunan Tapi Dianggap Seperti Kuitansi Kosong

7 Januari 2026 - 07:22 WIB

Populer EKONOMI