Menu

Mode Gelap
YLKI Tagih Perbaikan Program MBG 100 Hari Pertama BGN Harus Nihil Keracunan MBG Matikan Warung Sekolah Utang Baru untuk Bayar Bunga Utang Lama Ekonomi Tumbuh di Atas Kertas Belaka Rupiah Tembus Rp18.000: Kepercayaan Investor Sudah Krisis Kata Anggota Dewan soal PHK Capai 23 Ribu Pekerja

KEUANGAN

Utang Baru untuk Bayar Bunga Utang Lama

badge-check


					Foto: ilustrasi (AI) Perbesar

Foto: ilustrasi (AI)

INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia disebut telah masuk dalam jebakan utang, di mana pinjaman baru tidak lagi digunakan untuk mendorong pertumbuhan melainkan sekadar menutup kewajiban bunga utang yang jatuh tempo.

Kusfiardi, analis ekonomi politik dan co-founder Fine Institute, menjelaskan bahwa indikator paling sahih untuk membaca kondisi ini adalah keseimbangan primer dalam APBN. Ketika keseimbangan primer negatif, artinya penerimaan negara tidak lagi cukup untuk membayar bunga utang.

“Utang baru yang masuk dipakai untuk bayar bunga utang yang jatuh tempo. Untuk bayar pokok utangnya, subsidinya dikurangi, BUMN-nya diprivatisasi,” kata Kusfiardi dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad, Sabtu (6/6/2026).

Di sisi belanja, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyedot sekitar Rp300 triliun, ditambah anggaran perlindungan sosial lain mencapai Rp400–500 triliun. Total belanja sosial hampir Rp800 triliun ini tidak diimbangi kapasitas penerimaan yang memadai.

Kusfiardi juga menyoroti ketidakharmonisan antara otoritas fiskal (Kementerian Keuangan) dan moneter (Bank Indonesia), yang justru saling melempar tanggung jawab atas pelemahan rupiah. Ia mendorong agar keduanya, bersama OJK, membangun koordinasi kebijakan yang konsisten dan tidak saling kontraproduktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

CWIG Desak Polisi Periksa Istri CEO BAT Bank dan Saksi AN

5 Juni 2026 - 00:38 WIB

Ojek Online Sumbang 2,37 Persen PDB dan Serap 5,53 Juta Tenaga Kerja

4 Juni 2026 - 20:23 WIB

Rupiah Kalah dari Vietnam Dong, Ini Sebabnya

3 Juni 2026 - 22:01 WIB

Populer KEUANGAN