INAnews.co.id, Jakarta– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menghidupkan ekonomi lokal justru dinilai berdampak sebaliknya di tingkat akar rumput. Analis ekonomi politik Kusfiardi mengungkap bahwa skema Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyerap bahan pangan dalam jumlah besar dari pasar lokal secara serentak memicu kelangkaan stok dan kenaikan harga di pasar setempat.
“SPPG datang, ngambil semua. Barang di pasar habis. Yang tersisa diperebutkan, harganya naik,” ujar Kusfiardi dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad, Sabtu (6/6/2026).
Lebih dari itu, kehadiran dapur SPPG secara masif juga mengancam keberlangsungan warung makan dan kantin sekolah—pelaku usaha mikro yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lingkungan sekitar sekolah.
“Orang yang tadinya enggak kerja jadi kerja di SPPG. Tapi orang yang tadinya kerja di warung jadi enggak kerja. Hanya ganti pelaku,” tegasnya.
Kusfiardi merekomendasikan agar MBG dikelola langsung oleh pemerintah daerah—kabupaten dan kota—dengan melibatkan ibu-ibu pemilik warung dan kantin sekitar sekolah, sehingga manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal.






