Menu

Mode Gelap
Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme Mendesak Indonesia Kritik Keras Kebijakan AS soal Venezuela

KEUANGAN

Dolar AS Menguat Oleh Naiknya Permintaan dan Data Ekonomi

badge-check


					Dolar AS (Foto Istimewa) Perbesar

Dolar AS (Foto Istimewa)

INANews.co.id – Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya di sesi perdagangan hari ini, seiring dukungan dari kenaikan permintaan terhadap safe haven Dollar akibat dari tingginya ketegangan perdagangan serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Meski demikian, mata uang Yen Jepang, yang sering dipandang sebagai safe haven di tengah tingginya kekhawatiran investor, justru diperdagangkan dalam kisaran range yang sempit menjelang pertemuan kebijakan moneter dari Bank of Japan pada hari Rabu besok.

Arus perpindahan dari aset berisiko ke safe haven Dollar, terjadi pasca sebuah laporan dari Bloomberg yang menyebutkan bahwa Washington tengah mempersiapkan untuk mengumumkan tarif baru terhadap semua barang impor dari Cina, jika pembicaran antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping gagal menemui suatu kesepakatan untuk meredam trade war diantara keduanya. Kedua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia tersebut, dijadwalkan bertemu di sela-sela perhelatan KTT para pemimpin G20 yang akan berlangsung di Argentina pada akhir November mendatang.

Kenaikan nilai tukar Dolar AS kali ini banyak ditunjang oleh manfaat dari status safe haven-nya, seiring jatuhnya harga saham yang tajam sebagai akibat dari kekhawatiran terhadap Perang Dagang yang meningkat. Indek Dolar berada di kisaran 96.66, atau mencatat kenaikan 0.1%. Ini merupakan posisi tertinggi kedua di tahun ini setelah sempat menyentuh 96.98 pada 15 Agustus silam.

Sementara itu bursa saham AS berbalik mengalami penurunan tajam di sesi perdagangan awal pekan ini, akibat penurunan saham-saham di sektor teknologi, sehingga menimbulkan kecemasan terhadap prospek pendapatan perusahaan.

Euro dalam perdagangan EURUSD diperdagangkan relatif tidak berubah terhadap Dollar, setelah sempat mencapai level terendahnya dalam 10 pekan terakhir, akibat dari sejumlah ketidakpastian politik yang melanda kawasan tersebut. Disebutkan bahwa Kanselir Jerman, Angle Merkel nampaknya tidak memiliki ambisi lagi untuk terpilih kembali sebagai ketua Partai Kristen Demokrat.

Selain itu permasalahan anggaran Italia nampaknya masih akan membayangi pasar Eropa, setelah terjadi kebuntuan antara pihak Brussel dan Roma terhadap rancangan anggaran yang dinilai melanggar peraturan fiskal dari Uni Eropa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Target Pertumbuhan 5,4 Persen Sulit Tercapai, Konsumsi dan Kredit Melemah

5 Januari 2026 - 23:39 WIB

Danantara Jadi Ujung Tombak Pemulihan Pascabencana di Aceh

2 Januari 2026 - 08:47 WIB

Membedah Kontradiksi Kebijakan Moneter BI yang Dianggap Berhalusinasi

31 Desember 2025 - 09:11 WIB

Populer KEUANGAN