Menu

Mode Gelap
Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG Muhammadiyah Tegaskan ‘Aliansi Muda Muhammadiyah’ Bukan Sikap Resmi Organisasi Dibawah Kepemimpinan Listyo Sigit Polri Hadir Sebagai Aktor Pembangunan Nasional Destinasi Wisata Alam Menarik di Kabupaten Bone Bolango Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

BREAKING NEWS

Fakta sejarah 1998 dan posisi milenial pada Pemilu mendatang

badge-check

INAnews.co.id – Acara yang menghadirkan narasumber Christianto Wibisono (Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia), Grace Natalie (Ketua Umum PSI), Tsamara Amany (Politisi PSI) dan beberapa caleg PSI antara lain Viani Limardi Dapil 3 Jakarta utara, Antthony Winza Dapil 2 Jakarta utara.

Dalam acara diskus ini narasumber Christianto Wibisono selaku analis ekonomi dan saksi tragedi 1998 bercerita tentang perjalanan politik bangsa Indonesia dan Ekonomi Global. Menurutnya tragedi Mei 98 memiliki pesan tersendiri bagi generasi millennial, untuk dapat memaknai peristiwa sejarah Indonesia pada masa Orde Baru itu.

“Tragedi Mei 1998 merupakan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi pada 13-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota, namun juga terjadi di beberapa kota lain. Kerusuhan ini diawali dengan krisis moneter di Asia dan dipicu tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti saat demonstrasi 12 Mei 1998. anak muda terutama generasi milenial harus aktif ambil bagian pada panggung politik dalam rangka membangun ekonomi bangsa melalui semangat idealisme ” papar Christianto dalam acara tersebut, Sabtu (29/09).

Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia atau PSI mengatakan “PSI menawarkan politik baru yaitu politik transparansi dan profesionalitas, kami menawarkan kepada masyarakat mulai dari seleksi caleg kita buka kepublik, ketika di wawancara seperti apa dan hasilnya bagaimana, kita juga sudah siapkan flatfrom dan siapkan tanda tangan kontrak caleg, dan itu bagi caleg wajib melaporkan kepada masyarakat kinerjanya setiap hari ketika menjadi anggota legislatif” ucap Grace Natalie.

We Love NKRI Paparkan Edukasi Menjadi Pemilih Cerdas 

Pada kesempatan yang sama Ganjar menyampaikan dirinya ingin mengedukasi serta menciptakan damai di NKRI. Menurut GBP perlu dicermati dengan seksama disini adalah edukasi bagi yang masuk DPT( Daftar Pemilih Tetap) pada PEMILU 2019.”Bagaimna kita bisa menjadi PEMILIH yang Cerdas & Cermat “, ungkap GBP.

Berdasarkan Survey dilapangan yang dilakukan GBP yang terjadi bila adanya Money Politik, ternyata menurut GBP jawaban dari pemilih ada 3 (tiga) kategori utama pemilih ,

Kategori Pertama :

1. Pemilih ambil uang tersebut dan kemudian dipilih sesuai arahan yang memberi uang.

Fakta Pertama ; bila ada orang yang memberikan uang sebesar Rp 500.000 untuk memilih pilihan tertentu Dia akan ambil uang tersebut dan pada saat pemilihan dia akan memilih sesuai arahan orang tersebut.

Kategori Kedua :

2. Pemilih ambil uang tersebut kemudian untuk memilih tetap berdasarkan hati nuraninya.

Fakta Kedua ; bila ada orang yg di berikan uang sebesar Rp 500.000 untuk memilih pilihan tertentu dia akan ambil uang tersebut dan pada saat pemilihan dia tidak memilih sesuai arahan orang tersebut tetapi memilih berdasarkan hati nurani sendiri.

Kategori Ketiga :

3. Pemilih tidak mengambil uang tersebut dan tetap dia memilih berdasarkan hati nuraninya.

Fakta ketiga ; bila ada orang yg di berikan uang sebesar Rp 500.000 untuk memilih pilihan tertentu dia TIDAK AMBIL uang tersebut dan dia memilih berdasarkan hati nuraninya sendiri.

Menurut GBP juga posisi pemilih pemula atau milenial sangat potensial untuk diperebutkan pada Pemilu 2019. Karena jumlah pemilih pemula mencapai 33 % atau sepertiga jumlah pemilih yang terdaftar sebagai pemilih pada Pemilu 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Model Overlapping Generation Ungkap Dampak MBG

12 Januari 2026 - 13:38 WIB

Ketahuan ‘Kumpul Kebo’ Siap-siap Dipidana di KUHP Baru

9 Januari 2026 - 11:15 WIB

Amien Rais Sebut KUHP Baru Gerbang Otoritarianisme

9 Januari 2026 - 10:11 WIB

Populer POLITIK