INAnews.co.id, Jakarta – Bertempat di Yogyakarta para Komisioner Kompolnas dan Pejabat Sekretariat Kompolnas pada hari Selasa ( 17 /12) sampai Rabu (18/12) melakukan rapat untuk membahas arah bijak Polri tahun 2019.Hal itu sebagaimana diperintahkan oleh UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Perpres No. 17 tahun 2011 tentang Kompolnas.
“Merumuskan kebijakan Polri sebagai masukan atau bahan saran dan pertimbangan kepada Presiden merupakan salah satu tugas pokok Kompolnas” ucap Dede Farhan Auliawi selaku Komisioner Kompolnas.
Dede menjelaskan setelah mengamati berbagai fenomena sosial yang terjadi di tanah air, hasil kunjungan Kompolnas ke beberapa wilayah dan berbagai satker Polri, serta hasil kunjungan ke luar negeri akan mewarnai pokok – pokok fikiran dari saran dan pertimbangan tersebut.
Ditambahkan Dede konsep dasar dari saran dan pertimbangan arah bijak strategis Kepolisian tentu akan berisi pokok – pokok fikiran strategis agar Polri bisa lebih baik, lebih baik, dan terus lebih baik lagi.
“Untuk menuju Polri yang promoter tidak bisa langsung jadi seperti membalikan telapak tangan, karena pasti ada banyak proses yang harus dilalui,” ucap Dede.
Djtambahkan Dede Polri saat ini belum sempurna itu pasti, tapi yang terpenting bukan soal sempurna atau tidak sempurnanya, melainkan semangat untuk terus memperbaiki diri itulah yang terpenting.
“Menyadari akan masih adanya kekurangan lalu berinisiatif dan bertekad memperbaiki, itu yang sangat kita apresiasi. Dan secara objektif Kompolnas melihat bahwa semangat untuk memperbaiki itu ada” ucap Dede.
Menurut Dede mengelola organisasi Polri yang besar dan tersebar ini tentu bukan hal yang mudah. Baik hal – hal yang terkait dengan soal keterbatasan anggaran, keterbatasan kualitas dan kuantitas SDM, serta keterbatasan sarana dan prasarana bagi Polri dalam menjalankan tupoksinya.
“Coba bayangkan Indonesia yang memiliki jumlah pulau sekitar 17.000 pulau dan tersebar luas dengan beragam suku, bahasa, agama, ras jika tidak bisa dikelola dengan baik bisa menjadi masalah yang serius,” ujar Dede.






