INANews.co.id, Makassar – Melonjaknya tiket pesawat terbang ,ternyata berdampak positif bagi angkutan laut yang memiliki rute jauh. Lonjakan penumpang ternyata banyak terjadi pada angkutan laut yang melayani rute antar pulau.
Seperti halnya KM Ciremai milik PT.Pelni, rute Tanjung Priok hingga Bau-Bau yang mengalami imbas positif dari kenaikan tiket pesawat terbang dan perlakuan harga bagasi.
Menurut Nahkoda KM Ciremai , Kapten Muhary saat ditemui redaksi lonjakan penumpang terjadi saat peak season. Pendapatan atau omset kapal Penumpang PT.Pelni sebelum kenaikan tarif tiket pesawat jelang akhir tahun 2018 rata-rata Rp. 4 milyar,setelah tarif tiket pesawat naik menjadi Rp.7 milyar.

Nahkoda KM.Ciremai Muhary
“Setelah peak season biasanya pasasi penghasilannya Rp.2 miliar dan muatan Rp.3 miliar, sekarang sudah imbangi jadi Rp.3,6 miliar , jadi ada kenaikan 50% mungkin karena tiket pesawat naik,” jelas Muhairy pada Minggu (27/01/2019).
Ditambah Muhairy pasasi pada minggu tanggal 27 januari 2019 tercatat Rp. 3,6 miliar dengan jumlah penumpang 10.001 jiwa dan itu sampai Makassar.
“Rata-rata diluar peak season pasasi kenaikan hanya Rp.1,7 miliar dan ini malah ada kenaikan tinggi , saya naik di kapal pasasi sudah Rp. 3,6 miliar dan ini sudah melebihi muatan, total pasasi dan muatan bisa sampai Rp.6,8 miliar untuk hari minggu (27/01/2019)” jelas Muhary.
Minat masyarakat untuk naik kapal motor cukup baik dan menurut Muhairy perbaikan layanan dan kenyamanan terus ditingkatkan PT.Pelni, “ini faktor imbas tiket pesawat dan over charge bagasi pesawat terbang mahal bisa menjadi dampak yang baik bagi angkutan laut,” ujar Muhary.
“KM Ciremai di desain bukan untuk penumpang murni , dan ini jadi dilematis ketersedian kamar penumpang juga terbatas , jadi memang lebih banyak muatan dan kargo, dan tidak ada kamar yang disewakan, dan tidak ada disini juga,” tegas Muhary






